“Ada Seni” di Ranah Minang

Home/ Artikel/ “Ada Seni” di Ranah Minang

“Ada Seni” di Ranah Minang

(Tulisan ini pernah dimuat di Indonesia Art News, 14 April 2014)

Oleh: Nobita Alberto

 

Pada hari Senin, 14 April 2014, telah terjadi peristiwa kesenian di bumi ranah minang. Sebuah lembaga kesenian yang menamakan diri mereka Rumah Ada Seni (RAS), menyelenggarakan pameran seni rupa untuk mengawali pergerakan mereka di dunia seni rupa Indonesia. Lembaga yang kehadirannya masih terhitung baru ini mampu menghadirkan sebuah pameran yang sangat apik. Lahir sebagai kelompok yang peduli dengan kesenian namun tidak peduli dengan kemiskinan akan ide.

Pameran yang diadakan di galeri alternatif, yang lokasinya berada di tengah-tengah salah satu permukiman warga Padang ini, terbilang cukup sukses. Dimulai dari cara panitia mengemas pameran sampai pada antusiasme pengunjung. Pameran ini berhasil menyedot perhatian publik untuk berbondong-bondong datang menyaksikan pameran tersebut.

Salah satu pengunjung, Desmond Nusantara, mengatakan, “Ini sangat menarik, dan sangat bagus untuk membangun iklim berkesenian di Sumatera Barat,” ujarnya. Tidak hanya Desmond saja, banyak lagi pengunjung yang mengaku bahwa mereka sengaja datang ke acara pameran tersebut karena sangat penasaran dengan karya-karya yang disuguhkan oleh RAS. Artinya, lembaga kesenian Rumah Ada Seni telah mengukir sejarah di Sumatera Barat dengan berhasilnya mereka mempengaruhi orang-orang untuk menyaksikan sebuah perhelatan seni rupa, yang biasanya tidak terlalu diminati oleh masyarakat luas.

Dalam pameran bertajuk “Ada Seni” ini, muncul 35 nama seniman dari berbagai generasi. Mereka menghadirkan karya masing-masing tanpa dikungkung oleh pakem-pakem tertentu, sehingga karya yang hadir begitu beragam dan menjadikan pameran ini sangat menarik. Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya berupa karya dua dimensi saja, melainkan juga menyuguhkan karya-karya tiga dimensi serta art performance. Seluruh karya yang lolos dipamerkan mulai dari tanggal 14 s/d 20 April mendatang.

“Pameran ini tidak menitikberatkan pada persoalan tematik yang mengikat, melainkan lebih menilik eksistensi dan sikap seniman dalam menjalani aktifitas kekaryaannya,” ungkap Ibrahim, kurator dari pameran tersebut.

Menurut Ibrahim, pameran “Ada Seni” merupakan media bagi seniman untuk sama-sama meneriakkan pada masyarakat luas tentang keberadaan seniman. Eksistensi seniman tersebut ditunjukkan melalui karya-karya yang mereka hadirkan dalam pameran. Bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah usaha untuk mengembalikan geliat seni rupa di Sumatera Barat yang kian hari kian lesu.

Satu hal yang cukup mengejutkan adalah pameran “Ada Seni” dibuka oleh seorang ketua pemuda di lingkungan pameran tersebut diadakan. Andrey Rydas, sang ketua pemuda, membuka pameran tersebut dengan caranya yang sederhana, tentu saja tanpa pidato pengantar yang membosankan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang selama ini dipercaya penyelenggara pameran untuk membuka acara pameran seni rupa. Tidak ada kata-kata yang sok paham atau sok peduli tentang seni rupa. Sang pembuka pameran hadir dengan caranya sendiri dan itu menjadi sesuatu yang tidak biasa. RAS telah melangkahi kebiasaan-kebiasaan konvensional, dimana sebelumnya setiap pameran yang diadakan di Sumatera Barat selalu melibatkan para petinggi atau orang-orang penting di jajaran pemerintahan, yang sebenarnya juga tidak paham tentang seni rupa, bahkan mungkin tidak peduli dengan keberadaan seni rupa di Sumatera Barat


Menilik Kegelisahan Sang Kurator

Dalam pengantar kuratorial pameran, kurator Ibrahim menuliskan kalimat-kalimat yang cukup mengganggu kita sebagai pembaca. Tulisnya: “Seniman Sumatera Barat masih senang tidur dan bermimpi di atas buaian (ayunan) orang lain dari pada buaiannya sendiri, lalu tidur pulas di atasnya. Atau mereka lebih tertarik untuk bertanam bahkan menyusup di kebun orang daripada menggarap tanah sendiri.” Kegelisahan sang kurator tentang kondisi kekinian seni rupa Sumatera Barat terpapar jelas dalam beberapa kalimat yang ia selipkan dalam catatan kuratorialnya tersebut. Ibrahim mengeluarkan statement ini bukan tanpa alasan, terbukti hal ini seakan telah mendarah daging bagi sebagian seniman Sumatera Barat

Ketika iklim berkesenian di ranah Minang meredup, seniman segera mengambil langkah dan membuat keputusan untuk mengirim karya-karya mereka ke pulau Jawa kemudian memamerkannya di sana. Hampir seluruh seniman berlomba-lomba untuk pergi meninggalkan ranah Minang, melarikan diri ke daerah-daerah yang telah menawarkan posisi aman. Setiap seniman yang ditawarkan atau mendapatkan kesempatan untuk berkesenian di luar pulau Sumatera (seperti Bandung, Yokyakarta ataupun Jakarta), menjadi lupa bahwa ada tanah kelahiran yang seharusnya mereka besarkan.

Berpameran di pulau Jawa menjadi satu-satunya tujuan bagi mereka yang mulai putus asa dengan situasi yang dihadapi di ranah Minang. Mentalitas seperti itu kemudian juga ditanamkan pada para generasi penerus. Yang tua selalu mendongengkan bahwa negeri seberang jauh lebih elok untuk berkesenian. Para pendahulu selalu berpesan agar yang muda berhenti menjadi pemimpi di tanah sendiri. Kemudian yang terjadi adalah, para seniman muda berdesak-desakan membawa karya mereka menuju tanah seberang. Seperti yang diungkapkan Ibrahim bahwa: “Mentalitas seperti ini sungguhnya tidak salah, namun tanpa disadari malah semakin membesarkan wilayah lain dan mengkerdilkan wilayah sendiri di peta seni rupa Indonesia.” Ini artinya, seniman bersama-sama membiarkan seni rupa Sumetera Barat terpuruk dan mati perlahan-lahan. Seandainya kegelisahan sang kurator menjadi kegelisahan bersama (bagi seluruh seniman Sumatera Barat), mungkin ini akan menjadi berita baik untuk sebuah kebangkitan seni rupa di ranah Minang.

Ibrahim juga menegaskan bahwa kehadiran pameran “Ada Seni” bukan sebagai pembuka jalan atau jalan keluar untuk kemelut yang dihadapi seluruh seniman Sumatera Barat saat ini, melainkan sebagai cikal bakal menguatnya kembali semangat untuk membenahi bengkalai yang terabaikan oleh maayarakat seni Sumatera Barat. Ia mengharapkan nantinya akan timbul kesadaran dari setiap individu bahwa pada level tertentu seniman tidak hanya menjadi sosok yang menunggu untuk dipamerkan namun harus ikut mengorbankan diri sebagai penggagas, pelaksana dan peserta dalam pameran.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar