Catatan Pameran RAS Duo Datuak

Catatan Pameran RAS Duo Datuak

 


 

Menurut kultur Minangkabau pemimpin biasa disebut dengan Penghulu, yang kemudian diberi gelar Datuak. Sebagai pemimpin, seorang Datuak merupakan sosok yang  amat penting, terutama dalam memelihara dan menjaga suku, kaum atau nagarinya. Keberadaannya diibaratkan  batang kayu di tengah padang, ureknyo tampek baselo, batangnyo tampek basanda, rantiangnyo tampek bagantuang, buahnyo ka dimakan, daunyo tampek balinduang.

Sebegitu pentingnya seorang Datuak tersebut, ia tidak hanya diharapkan menjadi sandaran bagi masyarakat nagarinya. Kepekatan “darah” juga harus  tergambarkan saat meletakkan sesuatu atau dengan sebutan mangganti samo berek, tibo di mato indak bapiciangan tibo di paruik indak bakampihan sebagai pertalian dari tahu di bayang kato sampai, tau di ranggeh ka malintang, tahu di tunggua ka manaruang, tak ado kusuik nan ndak ka salasai karuah nan indak ka janiah.

Disamping itu, beban serta sikap yang juga dimiliki seorang penghulu yang bergelar Datuak tersebut adalah berjalan menurut alur yang lurus, memelihara anak kemenakan, mempunyai harta pusaka, serta menempuh jalan yang pasar. Kalaupun  seorang datuak terbilang sebagai pemimpin dan pastinya sangat dihormati namun ia tetap pada posisi didulukan salangkah ditinggian sarantiang” sebagai manifestasi bahwa pemimpin tidak terlalu jauh dari yang dipimpinnya.

Dalam hal regenerasi persyaratan untuk menjadi seorang Datuak tidak hanya membidik pada persolan telah berakal, berbudi, berilmu pengetahuan, adil dan pemurah, sabar serta bijaksana saja. Akan tetapi membidik asal muasal yang nantinya ditentukan berdasarkan tali saparuik, sakaum atau sapasukuan alias kamanakan di bawah daguak atau kamanakan batali darah yang nantinya menjadi awal tumbuhnyo ditanam, tingginyo dianjuang, gadangnyo diamba. Ini kemudian berurut kepada warih nan bajawek dengan turunan pilihan nan sajari, nan sajangka, nan saeto, nan sadapo. Seandainya turunan ini tak terpenuhi maka berlanjut pada gadang bagilia atau gadang balega. Dengan kata lain pengangkatan seorang Datuak berperkara pada penghulu yang memakai sepanjang adat, patah tumbuah dan penghulu yang memakai sepanjang adat, hilang baganti.

Kendati masih bersifat umum uraian di atas mencoba menggambarkan bahwa ada hal mendasar yang harus disiapkan, dimiliki, dan dipenuhi untuk memberi dan mendapatkan gelar Datuak. Namun seiring dengan perjalanan waktu dan ketika setiap hierarki kepemimimpinan telah terintegrasi dalam satu wilayah kesatuan Indonesia banyak hal yang terjadi di Ranah Minang terutama dalam menyematkan gelar Datuak atau gelar pusakao. Ini terbentang dari bagaimana gelar Datuak itu sendiri seperti dilayang-layangkan tanpa benang. Gelar Datuk disinyalir telah dilekatkan kepada orang-orang yang di satu sisi memang memiliki peran penting di negeri ini dan di sisi lainya mereka sangat jauh dari nan sadapo atau adat hilang baganti sebagai syarat terjauh untuk mendapat gelar Datuak atau pusaka.

Ganjalan pertama yang muncul dari realitas terebut jelas tertuju pada pijakan para kemenakan, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan panghulu itu sendiri saat menyematkan dan memberikan gelar Datuk pada orang-orang tersebut.  Kalaupun gelar Datuak yang telah diberikan kesana kemari tersebut tidak merupakan representasi dari salah satu suku, kaum atau nagari di ranah Minang, Datuak dari manakah gerangan itu? Atau mamang ada dua buah peti tradisi yang masing-masingnya memiliki klasifikasi yang berbeda dan akan diberikan untuk orang yang berbeda pula. Yang satu untuk Datuak nan sabana Datuak dan yang satu untuak Datauk-Datuak-an. Kalau memang kenyataannya demikian, jelas pameran ini tak ingin ketinggalan dalam perayaan yang tertunda bahwa kita masyarakat Ranah Minang ternyata memiliki “Duo Datuak”

 

Duo Datuak Dalam Visi

 

Duo Datuak jelas bukanlah persoalan yang menjadi satu-satunya tokoh utama dari pameran kali ini. Namun untuk memudahkan visi di balik  itu jelas dengan mengusung tema Duo Datuak bisa dibilang menjadi salah satu pilihan yang menarik. Adapun dasar dari tema di atas jelas menyoroti persoalan bagaimana sosok seorang Datuak maupun persoalan penganugerahan  gelar Datuak di Ranah Minang. Di samping itu hal mendalam yang akan disampaikan kepada publik bahwa pameran ini tak lain mencoba menggeser pola seniman untuk lebih mengeksplorasi tanda-tanda ataupun simbol-simbol lokalitas.

Latar ini berangkat dari beberapa catatan pameran yang telah pernah digagas masyarakat Minang sebelumnya.  Adapun itu tidak kunjung memberikan apresiasi yang spesial bagi seniman di Ranah Minang. Dari beberapa evaluasi yang dilakukan indikasi yang tampak adalah akibat terjebaknya seniman di Ranah Minang dengan kecendrungan yang sedang populis terutama di wilayah-wilayah seperti Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Ekspresi yang paling sering muncul tentu dari pecinta seni, pemerhati, maupun kritikus dengan implisifitasnya telah menandakan bahwa karya seniman yang di Ranah Minang masih di bawah bayang-bayang seniman di Jawa dan kelompok-kelompok seni rupa terdepan terutama seniman rantau yang berasal dari Ranah Minang. Ini tampak akibat spirit lokalitas yang terpatri dalam kata satu rumpun menjadi pemakluman dalam mengikuti jejak yang dilakukan oleh seniman-seniman Ranah Minang nan di rantau. Padahal semua tahu bahwa seniman rantau dibentuk oleh lingkungan yang berbeda kendati memiliki akar yang sama. Perbedaanya bisa dilihat bahwa seniman Ranah Minang di rantau berada diantara heterogenitas kultur dan mobilitas kreatif yang tinggi, yang mana akhirnya mampu membentuk kepribadian “baru’. Kenyataan ini sadar atau tidak telah berlanjut pada pembentukan karakter kuat demi menghadirkan karya yang selama ini cendrung lebih “plural” dan cair. Kemudian kontinuitas dan iklim kompetisi yang terjaga juga turut mempengaruhi proses dan hasil tanpa dibebani oleh “identitas lokalitas”.

Sedangkan di ranah Minang  ada hal yang bisa jadi berbeda, yang mana Ranah Minang lebih cenderung homogen, namun selama ini mencoba untuk tampil “plural”. Sedangkan publik butuh sesuatu yang tidak mereka temukan antara tempat yang satu dengan yang lainnya. Bahasa sederhanya kurang lebih adalah apa sih yang membedakan antra seniman Sumatera Barat dengan seniman di daerah lain? Artinya “ciri” seperti menjadi salah satu pembeda antara seniman di ranah Minang dengan seniman di luar sana kendati itu juga seniman yang berasal dari Ranah Minang.

Kalupun ini dilakukan, seniman Ranah Minang juga dihadapkan dengan paradok, akibat memiliki semangat-semangat yang beragam terutama seniman yang muda-muda. Ketika mereka berusaha untuk menjadi advan namun pada akhirnya karya yang mereka hadirkan jauh dari kata dipahami oleh masyarakat dan bahkan sulit untuk diterima. Kalupun mereka mencoba untuk menjadi akomodatif dan bermain dalam kapasitas apresiasi masyarakat lokal malah menjadikan karya mereka tampak tertinggal dari seniman-seniman di luar sana terutama dalam ranah seni rupa kontemporer Indonesia. Walaupun ada yang mencoba untuk mencari jalan aman dengan cara “meniru” kecendrungan mapun teknik dari karya-karya yang sedang trend, tentunya akan menjadikan  Sumbar sebagai tempat bagi seniman imitator yang baik.

Perlu kiranya membuat sebuah siasat atau katakanlah sebuah cara untuk ‘menggiring” seniman di Ranah Minang berada dalam jalurnya sendiri yang nantinya pilihan ini diharapkan menjadi sebuah alternatif bagi para pecinta seni di Indonesia umumnya dalam memaknai seniman di Ranah Minang. Paling tidak berusaha menciptakan sebuah pembeda bagi publik bahwa ada hal yang tidak ditemukan di tempat lain kendati karya yang disuguhkan menggunakan media yang sama. Jika ini mampu berbicara banyak, jelas tidak ada lagi “penghukuman” dan mengatakan senimanya dari Minang dan tinggal di Minang namun ke-Jogja-Jogja-an atau malah mengerucut pada kelompok-kelompok seni rupa tertentu.

Tema Duo Datuak jelas mengharapkan sebuah elaborasi dari seniman dengan cara yang lebih cerdas dan kreatif dalam menyikapi perkembangan dan perubahan pemahaman terhadap kebudayaan Mingangkabau itu sendiri. Melalui karya yang disungguhkan akan nampak bagaimana sosok seorang Datuak di mata anak kemenakan dan juga bagaimana memaklumi sebuah kebijakan yang diambil oleh masyarakat tradisi dalam memberikan gelar Datuak. Namun seperti ungkapan di atas pameran ini juga sangat berharap hadirnya sebuah kencendrungan yang membawa atau menangkap tanda maupun sombol-simbol lokalitas yang kemudian akan menajdi titik lanjut kesenirupaan Minangkabau selanjutnya.

Ilustrasinya adalah masyarakat tahu bahwa bagaimana dan seperti apa gaya maupun  kecendrungn pelukis Wakidi misalnya.  Lalu apa jadinya jika objek yang pernah ditangkap oleh Wakidi malalui karyanya dilihat dan dihadirkan dengan semangat kekinian. Maksudnya adalah akulturasi yang masif serta akses informasi yang luas apakah mampu membentuk sebuah “sudut pandang baru” dalam menterjemahkan nilai lokalitas dalam rangka melahirkan sebuah karya yang mutakhir. Lebih lugasnya adalah “objek” yang digarap Wakidi misalnya bukanlah sebuah ketertinggalan namun memilih bagaimana Wakidi menggarap sebuah karya jelas akan terjadi pengulangan.

Disinilah dibutuhkan sebuah cara pandang yang berbeda untuk menghadirkan karya yang berbeda, kendati menggarap objek sama. Begitu juga praktek seni rupa tradisional yang pada dasarnya juga punya kesempatan yang sama untuk tranformasikan dan didudukan dalam konsep serta pemahaman yang sama dengan karya seni lainya.

Inilah makna implisit dari pameran Duo Datuak dan inilah yang diharapkan tampak dalam pameran Duo Datuak. Adapun itu sebuah kecendrungan. Kecendrungan yang membawa kepada sebuah pembeda. Pembeda yang nantinya akan memberikan warna tersendiri bagi perkembangan seni rupa di Indonesia.

 

Duo Datuak Dalam Karya

Harus diakui dan tidak bisa dipungkiri bahwa dari beberapa karya yang hadir dalam pameran kali ini bisa dikatakan belum mencapai espektasi sesuai  gagasan dan visi awal pameran. Ini mungkin diawali dari kualitas penyerapan atau pengkomunikasian gagasan pameran yang ditawarkan dalam pameran.  Di samping itu juga harus diakui bahwa seniman di Ranah Minang juga belum dibiasakan dengan mekanisme pameran yang diawali dengan penawaran sebuah tema dan dilanjutkan dengan sistem pengkurasian yang bisa saja ada karya yang akan terpilih ataupun tidak.

Namun pameran ini jelas tidak dihambat oleh sebagian sikap seniman di Sumbar yang tidak memilki  semangat kompetisi akibat masih berada pada level terendah dalam menyikapi mekanisme pameran tertentu. Kendatipun demikian karya yang hadir dalam pameran Duo Datuak kali ini telah menjadi pembuktian semangat perubahan untuk iklim kesenian dan diri sendiri demi mengkomunikasikan pikiran, gagasan dan kegelisahan kepada publik.

Berlanjut pada relasi antara karya dengan gagsan Duo Datuak secara umum terdapat empat kelompok atau empat cara pendekatan dalam menangkap dan merepresentasikan ide masing-masing seniman. Ulasan di sini mengambil beberapa buah karya untuk diurai sedekat mungkin. Usaha-usaha untuk tetap berada atau mendekat ke ke jalur Duo Datuk diperlihatkan beberapa seniman dalam pameran ini. Seperti karya yang berjudul “Fixed Price” miliknya Septiman Gisral kemudian karya Aldo We dengan judul “Narsis”, seterusnya Dwi Rahma Dona dengan judul “Sumpah Biso Kawi” dan karya Erlangga dengan judul “Untitlet”. Dalam karya mereka terdapat usaha untuk mengelaborasi gagasan yang mana Datuak dan kelengkapanya menjadi bagian yang dieksplorasi demi menghadirkan tanda serta ada yang mengkrucut pada konsekwensi mistikal dalam menjalankan amanah sebagi Datuak, sehingga terdapat praktek distorsi dalam bahasa yang cukup personal termasuk simbolisasi tradisional seperti suguhan Dwi Rahma Dona misalnya.

Lain halnya dengan karya yang dihadirkan oleh Wendy dengan judul “Pre Order” dan Nasrul dengan judul “Big Sale, Big Share. Di sini mereka mencoba menangkap spirit dari sosok Datuak itu sendiri sehingga yang tampak menonjol adalah pada tataran disposisi gelar Datuak dan dinamika dari kebijakan seorang Datuak dalam mengelola nagarinya. Sehingga tampak usaha untuk mengkonversikan gagasan menjadi tanda-tanda popular dari reproduksi kaum urban.

Sedangkan karya yang di tawarkan oleh Niluh Pangestu dengan judu “Me in The Chair”’ Yusuf Fadly Aser dengan judul … dan Roni dengan judul “3 Kursi Berjarangan”  cendrung tampak konvensional. Mereka melihat persoalan Duo Datuk dengan cara yang umum sebagai sosok pemimpin sehingga yang tampak adalah sebuah “simbol” kekuasaan tanpa memberikan tanda khusus yang menuju pada teritorial sang Datuak.

Pada bagian ini bisa dikatakan sedikit membutuhkan kekuatan narasi dalam menemukan kecocokan dengan gagasan pameran secara umum. Sebut saja karya Agung Budiman dengan judul “Terlena”. Secara kasat mata jelas karya Agung tak ubahnya seperti potret yang tidak memberikan tanda bahwa karya ini sedang berbicara tentang Duo Datuak. Namun menurut pengakuan seniman karya ini menggambarkan ekspresi ketidak tahuan bahwa ada sosok Datuak di belahan bumi ini dan anehnya itu berada di Nagarinya. Keluguan ini tentu menarik untuk ditampilkan sebagai bentuk dari dinamika di Minangkabau.

Kemudian ada salah satu karya yang bisa dikatakan mampu menyinggung visi dari pameran Duo Datuak  kendati si seniman belum tentu sependapat dengan ulasan ini. Adapun itu karya Nesa dengan judul “Calm Under Pressure”. Berangkat dari tanda atau simbol yang dihadirkan di dalam jam tampak memberi gambaran bagaimana sebuah tekanan datang dari wilayah yang cukup dominan. Substansinya jelas bisa ditarik kemana saja namun jika digiring kedalam wilayah kreatif berdasarkan uraian sebelumnya jelas memiliki visi yang terkait dengan Duo Datuak kendati karya ini tidak berada pada “ciri pembeda” yang telah diasosiasikan dalam Duo Datuak.

Ulasan disini jelas bukan untuk mempersempit wilayah analisis publik apalagi menginterpretasi secara tepat sesuai apa yang diinginkan publik terhadap karya yang di pamerkan. Namun ini adalah sebuah usaha untuk mengurai sejauh apa gagasan pameran mampu dibaca, diolah dan direpresentasikan seniman kedalam karya-karya mereka. Sehingga publik bisa mempertimbangkan sejauh apa kedekatan antara gagasan pameran dan gagasan seniman.

 

Ibrahim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar