Mentalitas Seniman Dan Pergerakan Ruang-Ruang Alternatif Sumbar Menuju Peta Seni Rupa Indonesia

  • Home /
  • Artikel /
  • Mentalitas Seniman Dan Pergerakan Ruang-Ruang Alternatif Sumbar Menuju Peta Seni Rupa Indonesia

Mentalitas Seniman Dan Pergerakan Ruang-Ruang Alternatif Sumbar Menuju Peta Seni Rupa Indonesia


Wilayah dan seniman merupakan dua entitas yang berbeda namun tampak seperti bagian yang sulit terpisahkan. Satu diantaranya sangat menentukan akan keberadaan yang satunya saat menapaki perkembangannya. Wilayah akan berperan penting dalam menunjang setiap proses kreatif maupun pergerakan kesenian dan begitu juga sebaliknya, seniman sebagai pengisi bisa dikatakan berperan dan menentukan arah dari perkembangan maupun citra wilayah itu sendiri.

Memetakan Persolan Sumbar

Bisa saja terjadi perbedaan pemaknaan akibat dalam catatan ini peran seniman menjadi “tertuduh” sebagai sosok yang menentukan keberadaan sebuah wilayah dalam peta seni rupa seperti di Indonesia misalnya. Kenapa demikian? Keberadaan seniman mampu merangsang tumbuhnya entitas lain seperti galeri, kurator, kolektor, art dealer, balai lelang dan media. Sebab semua itu nyaris tidak akan berfungsi maksimal jika seniman telah sampai pada titik terendahnya dan tak mampu mengadirkan produk kreatifnya. Sebaliknya, seniman ternyata mampu ada kendati hal yang disebutkan di atas sangat minim bahkan nyaris pupus. Ini bisa disaksikan dari beberapa daerah di Indonesia, dan salah satunya adalah wilayah Sumatera Barat. Sebagai bagian dari wilayah penyumbang seniman di Indonesia, seniman di Sumbar membuktikan bisa terus bergerak, walau di sadari dengan segala kekurangan tersebut pada akhirnya wilayah tempat mereka berkarya tidak mampu menjamin mereka bisa terus berkembang akibat mereka sendiri tidak bisa mengangkat wilayah mereka. Tetapi paling tidak ini membuktikan bahwa seniman khususnya di Sumbar mampu bertahan dalam menapaki perkembangannya walau di keklilingi oleh “ruang-ruang hampa”.

Fakta sejarah memang mengatakan Sumbar juga memiliki pemikir dan seniman yang berpengaruh di zamannya seperti Osman Efendi, Nasar atau Wakidi misalnya, namun capaian mereka belum mampu “mewarisi spirit” untuk generasi di belakangnya agar dapat membangun citra Sumatera Barat.  Atau jangan-jangan seniman sekarang ini yang tidak mampu menangkap nilai perjuangan yang di tinggalkan. Begitu juga dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, Sumbar juga memiliki seniman-seniman canggih yang terorganisir dalam Komunitas Sakato Jogjakarta. Di dalam sana terdapat kelompok dan personal-personal yang sangat dihargai dalam ranah seni rupa kontemporer Indonesia bahkan manca negara. Namun dengan segala kelebihan sumber daya manusianya harus diterima bahwa Sumbar masih juga dihadapkan pada persoalan yang sama pasca ditinggal oleh nama-nama besar seperti Osman Efendi, Nasar dan Wakidi tersebut. Hambatannya jelas bukan karena seniman-seniman sekarang tidak berbuat apa-apa untuk wilayah mereka namun persolannya adalah terletak pada visi dan ritme pergerakan. Sebelumnya, seniman di Sumbar dengan segala kepasrahan tapi tak rela hanya bergerak dalam kekosongan dan enggan mengambil peran untuk mengisi kekosongan tersebut. Sehinga pada akhirnya seniman di Sumbar sulit untuk mempertahankan eksisitensinya saat mereka ingin bergerak menuju puncak disebabkan mudah tenggelam dan begitu seterusnya dari generasi ke generasi. Inilah yang kemudian mempengaruhi eksisitensi Sumbar, akibat seniman yang ada di dalamnya memiliki generasi yang semata-mata bergerak hanya dengan “kuas dan kanvas belaka”. 

img-1440484100.JPG
                                                                                                                                                                                                                           Galeri RAS

Ditilik dari perkembangan kesenian secara holistik, pergerakan yang bertumpu pada satu entitas jelas akan memperlambat perkembangan suatu wilayah. Memang benar jika dunia tidak seluas daerah tertentu akibat antar wilayah yang satu dengan yang lainnya telah cair oleh kemajuan teknologi informasi. Namun persoalan Sumbar tentu bukan di sini jika di lihat dari fakta-fakta di lapangan. Seperti cukilan sebelumnya bahwa sejarah telah mengatakan kalau seniman asal Sumbar telah memberikan warna terhadap perkembangan seni rupa Indonesia baik dari zaman penjajahan hingga saat sekarang. Ini jelas cukup membanggakan namun bisa dipastikan tidak membuat sebagian pelaku kesenian di Sumbar puas jika dilihat dari sudut eksistensi wilayah. Diaknosanya adalah ketika para kritikus, kurator, lembaga kesenian, dan pecinta seni berbicara seni rupa Indonesia, jelas Sumbar hanya pelapis wialayah lain, seperti Jogjakarta, Jakarta dan Bandung, kendati untuk membicarakan seniman asal Sumbar mereka sangat bersemangat. Pandangan mereka ini jelas berawal dari sikap masyarakat kesenian Sumbar itu sendiri dan mereka para kurator, kritikus tersebut hanya menjelaskan sejauh apa yang mereka pahami dan ketahui. Inilah kesadaran yang ingin disampaikan kepada seniman Sumbar bahwa terdapat tantangan jika Sumatera Barat ingin membangun citranya dan mendapat tempat dalam peta seni rupa Indonesia kekinian.

img-1440484182.JPG

                                                                                                                                                                                                                      Karya kelompok Getar

Merajut Visi

Seniman Sumbar memang unik!!! Ketika kesadaran mulai dibangun dan persoalan telah dipetakan, maka langkah pertama akan berhadapan langsung dengan pandangan yang di Sumbar cukup dominan. Bagi mereka (seniman di Sumbar) yang sering berkaca pada daerah-derah seperti Jogjakarta, Bandung atau Jakarta, berpandangan bahwa mereka sangat sulit menerima jika dibebani dengan hal lain selain profesi mereka sebagai seniman kendati pilihan ini telah berhasil melahirkan seniman-seniman “tanpa panggung”.  Sedangkan sebagian lainnya memilih jalan untuk meninggalkan Sumbar dan menuju wilayah yang menurut mereka infrastrukturnya lebih baik.

Pandangan macam ini jelas sangat normal dan realistis mengingat tidak ada yang bisa meyakinkan mereka (seniman) untuk tetap bertahan di Sumbar akibat ketidakpastian bersama dengan seniman-seniman yang enggan untuk bekerja ganda tersebut karena mereka lebih suka mengandalkan pameran-pameran yang terdapat di pulau Jawa. Tetapi sikap inilah yang kemudian menjadi tantangan di Sumbar dan akan menjadi lebih berat saat satu atau dua diantara mereka yang berprinsip seperti di atas “berhasil” menggapai atau disentuh pasar maupun “panggung-panggung bergengsi” di Indonesia.  Sehingga mereka bisa bekerja dan bergerak sendiri tanpa harus berharap banyak pada iklim kesenian di Sumaera Barat dan pelengkap tantangannya adalah mereka malah menjadi panutan bagi generasi yang lebih muda. Ya bagus jika mereka yang mengikuti mampu mengulangi atau melampaui capaian orang yang mereka ikuti, tetapi kenyataan yang terjadi di Sumbar malah yang di ikuti tersebut yang tak mampu bertahan karena selalu mengharapkan support dari luar daerahnya. Padahal seniman yang selalu berharap dari ruang-ruang atau pameran-pameran di pulau Jawa membuktikan tak ada yang mampu bertahan dan mempertahankan produktifitasnya akibat sulit mendapat tempat. Anehnya ketika seniman tersebut menyuguhkan karya mereka di lingungannnya mereka sendiri seolah-olah kaget karna tidak ada ruang-ruang atau peristiwa yang menurutnya memadai. Dan pada akhirnya mereka hanya pintar dalam pola membanding-bandingkan apa yang didapatya di luar sana dengan tempat tinggalnya tanpa berbuat apa-apa.

img-1440484280.JPG
                                                                                                                                                                                      Diskusi seni di galeri RAS

Yang menjadi catatan penting  disini adalah ternyata masih terdapat seniman yang “tidak waras” di Sumbar dan berfikir jika tidak si seniman tersebut yang menggerakkan Sumbar siapa lagi. Sekian lama menunggu berpuluh-puluh tahun tak kunjung ada orang baik yang mau membagun galeri atau infrastruktur pendukung bagi pergerakan mereka. Sehingga menurut mereka kekosongan yang selama ini tersisip di antara pameran yang saban hari dilakukan oleh lembaga formal seperti Taman Budaya misalnya harus segera diisi agar mampu mengakomodir karya-karya yang lepas dari bidikan lembaga tersebut. Sebab jauh sebelumnya telah disadari bahwa persoalan Sumbar tidak hanya masalah infrastruktur dan  minimnya peristiwa seni rupa namun telah berkembang pada progresifitas karyanya.  Ada sebuah logika yang menggelitik yaitu: “Kenapa saya harus datang ke Ranah Minang kalau saya datang kesana saya tidak menemukan suatu karya yang berbeda dari karya yang pernah saya lihat di daerah lain. Jika apa yang saya lihat di Jogjakarta, Jakarta, Bandung atau Bali sama saja dengan yang ada di Sumbar kenapa saya harus jauh-jauh datang ke Sumbar”. Kemudian, “kenapa saya harus membangun galeri di Ranah Minang atau Art Dialer dan sejenisnya kalau saya tidak melihat ada pergerakan kesenian yang berkesinambungan, pasti dan signifikan”. Ini jelas menggugah akal sehat. Terjemahanya adalah investor mana yang mau menanamkan modalnya di tempat yang sirkulasinya tidak jelas, baik barang maupun finansialnya.  Dan alasan apa yang membuat mereka harus tertarik datang dan menuju suatu tempat dalam rangka menikmati dan bahkan membeli sebuah produk jika semua itu telah terdapat di sebelah rumah mereka.

Kesadaran inilah yang terus di kampanyekan oleh sebagian pelaku kesenian di Sumbar untuk seniman Sumbar itu sendiri. Sehingga muaranya mampu menuju kedalam pergerakan yang nyata dan berkelanjutan. Salah satu yang sangat mungkin untuk mendukung gagasan di atas adalah membangun ruang-ruang alternatif sebagai basis pergerakan anak muda Ranah Mianang. Sebab dengan hadir dan berkembangnya ruang-ruang alternatif dihasratkan mampu merangsang tumbuhnya karya-karya yang mampu bersaing serta institusi-institusi lain yang siap memperkaya khasanah seni rupa di Sumatera Barat.

Raung Alternartif Di Ranah Minang

Ada dua  ruang alternatif yang cukup menonjol dalam perjalanan seni rupa kontemporer di Sumatera Barat. Yang pertama adalah Komunitas Seni Belanak (KSB) kemudian Rumah Ada Seni (RAS). Keduanya bergerak dalam dimensi yang berbeda kendati berada di lingkungan yang sama. KSB yang berdiri tahun 2003 dan didirikan oleh 30 anak muda Ranah Minang lebih memilih peran sebagai workpartner. Hampir semua program yang mereka kerjakan berangkat dari gagasan yang dibawa oleh pihak kedua. Dengan peran ini mereka berhasil membuka hubungan kerja dengan Ruang Rupa Jakarta, Rumah Seni Cemeti, Taring Padi, Bentara Budaya Jakarta dan ruang-ruang kebudayaan di tingkat lokal seperti Taman Budaya, Dewan Kesenian Sumatera Barat dan perguruan tinggi seni. Mereka juga berperan menjadi mediator temporal antara seniman dengan kolektor-kolektor dan galeri-galeri di Jakarta yang salah satunya Edwin Galeri. Namun waktu memberikan jawaban akan semua kerja yang mereka lakukan bersama. Irama yang cenderung tidak seimbang menjadikan setiap pergerakan  mengalami penurunan kualitas dan nyaris tenggelam. Namun semua kembali menemukan jalannya ketika tahun 2014 generasi muda membentuk (RAS) Rumah ada Seni. RAS memiliki semangat yang jauh berbeda dari KSB dan pergerakan yang juga berbeda. Mereka lebih memilih menjadi inisiator dan fasilitator bagi pergerakan seni rupa di Sumatera Barat. Sebab dari pengalaman sebelumnya ternyata Ranah Minang memerlukan sebuah motivasi baru dan cara pandang yang tentunya lebih segar dan dewasa.  Paling tidak dibutuhkan sebuah semangat untuk tidak lagi bergerak dan menunggu untuk diajak atau difasilitasi. Tapi sebuah kerja yang mandiri dan membangun motifasi bahwa berkarya dan menggerakkan kesenian merupakan sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi dan menjadi kerja yang harus di segerakan. RAS juga tampil dengan kesadaran akan pentingnya sebuah kerja kolektif dalam menggerakkan kesenian. Di samping itu, RAS berangkat untuk menjawab tantangan bahwa Sumatera Barat layak menjadi bagian penting bagi perkembangan seni rupa Indonesia kekinian. Untuk bisa berjalan menuju hal yang dicita-citakan, mereka juga membuat orientasi kerja yang di satu sisi menciptakan iklim kesenian yang berkesinambungan namun tetap bergerak paralel dengan pengembangan karya-karya seniman. Langkah yang mereka lakukan berawal dari men-stimulasi proses kreatif seniman, membuka ruang eksplorasi kognitif melalui diskusi dan bedah karya, Eksperimental Art yang menyasar pada munculnya karya-karya seni rupa yang diharapkan memiliki kencenderungan yang berbeda, manajemen pameran seni rupa, dokumentasi dan publikasi,  serta memperkuat eksistensi wilayah. Walaupun terbilang muda, selama tahun 2014/15 RAS telah menggulirkan beberapa kegiatan seperti: Pameran “Ada Seni” di Galeri RAS tahun 2014, Workshop Google Sketch UP di Galeri RAS tahun 2014, RAS Venture  Padang-Padang Panjang-Bukittinggi-Payakumbuh-Solok-Surian tahun 2014, Pameran “Duo Datuak”di Galeri RAS tahun 2014, Pameran Mural-Instalasi “Melihat Kedalam” di Galeri RAS tahun 2015 dan hingga tulisan ini di selesaikan RAS terakhir melaksanakan pameran FORMMISI-YK The Aesthetic Of Code di Galeri RAS tanggal 3-9 Agustus 2015.

img-1440484567.JPG
                                                                                                                                                                                     Melukis bersama seniman Padang


Yang cukup mendasar dari semua itu bagi RAS adalah membangun dan memantapkan mentalitas pergerakan seniman. Dalam rangka meningkatkan minat seniman RAS terus bergerak dalam “ruang-ruang kosong” kesenian Ranah Minang. Bagian ini bisa dikatakan sebagai anti body pada kecenderungan “urbanisasi fisikis” seniman ranah Minang dalam memperlihatkan eksistensinya. Persoalan ini jelas ditujukan pada seniman yang berada di Ranah Minang namun memiliki jiwa yang terpisah dari Ranah Minang. Artinya, disini RAS melakukan pendekatan dengan cara menggulirkan program-program yang mengedukasi masyarakat kesenian untuk terus menggarap dan meramaikan wilayahnya sendiri. Dalam skala besar ini tentu dimaksudkan untuk mengajak Indonesia agar menghargai dan berpartisipasi terhadap peristiwa kesenian yang terjadi di tiap-tiap daerah. Sehingga pergerakan dan perkembangan kesenian Indonesia tidak hanya bertumpu dan terjadi pada wilayah-wilayah tertentu saja akibat seniman atau karyanya “tertarik dan ditarik” keluar dari daerahnya.

Ibrahim


 

 

 

 

Komentar
  • Rizaldi
    Selasa, 25 Agustus 2015

    Saya fikir ini hanya menjadi problem wilayah saya tapi ternyata Sumbar ngk jaug beda dan Sumbar yang memiliki perguruan tinggi seni menjadikan saya geli kalau nasipnya sama dengan saya di Riau dan teman teman di bengkulu

  • Sia Takok
    Kamis, 27 Agustus 2015

    karajo barek......!

Tambahkan Komentar