Menuju Inti

Menuju Inti

img-1432871047.jpg

MENUJU INTI

Mural dan instalasi jelas bukanlah karya yang asing bagi seniman termasuk seniman di Ranah Minang. Dua produk seni rupa ini, telah mencapai masa keemasan karena menawarkan kebebasan medium, cara, dan lokasi ekspresinya. Dengan segala keliaran yang ditawarkan dalam karya instalasi dan mural tersebut, menjadikan sebagian seniman cukup menyukainya. Namun, rasa suka terhadap jenis karya seni tersebut, khususnya seni instalasi, menjadikan sebagian besar seniman terjebak dalam kata 'liar' itu sendiri. Pada skala rendah, seniman seringkali menjadikan karya instalasi  sebagai perwujudan kegelisahan dengan cara yang hampir "gampangan". Tidak bisa dipungkiri, ada saja seniman yang "survival" menghadirkan karyanya saat mendapat kesempatan untuk berpameran. Misalnya, karya instalasi yang diciptakan muncul hanya dengan berkeliling di tempat pameran sambil mencari benda-benda apa saja yang bisa ia jadikan untuk material karyanya. Begitu juga saat menghadirkan bentuk, karya yang  tampak cendrung mendatar  yang penyebabnya  jelas bukan karena tidak memiliki gagasan visual, melainkan terhukum oleh material yang tidak terencana. Efek nyata dari ini jelas akan mendudukkan karya instalasi menjadi praktik yang tidak begitu penting dan memiliki daya kejut yang lemah saat menapaki perkembangannya. Alhasil, karya instalasi sulit memberi warna bagi keberagaman maupun perkembangan seni rupa kontemporer terutama di Ranah Minang.

img-1432871073.jpg

Lain halnya dengan mural, praktik ini seperti berada dalam bingkai yang terlalu sempit bahkan cenderung “tersentralisasi” dalam paradigma lukisan dinding semata dan tidak memiliki perkembangan dimensi. Berbeda dengan lukisan yang menggunakan media kanvas serta memiliki kesamaan cara ungkap dan dimensi yang sama. Saat ini, seni lukis malah mampu bertransformasi dan bahkan telah melampaui kaidahnya sendiri. Bagaimana dengan mural? Mural dalam hal ini tentu tidak sekaku yang digambarkan di atas. Namun, jika disimak dari perjalanannya, jelas praktik mural cenderung normatif. Mural masih bermain dalam dimensi yang stagnan serta jarang sekali mendapat tempat yang memadai dalam peristiwa kesenian di Sumatra Barat.  Tidak hanya itu, mural juga seperti berjalan sendiri dalam keliarannya di jalanan maupun di pinggir-pinggir kota tanpa pernah menjadi bagian dari “pergunjingan” intelektual seni rupa Sumatra Barat. Sehingga mural oleh sebagian pelaku, pecinta seni, dan masyarakat disikapi sebagai “sampah” kota yang tampil sedikit lebih manis daripada grafiti yang tanpa visi.

img-1432871901.jpg

Dua potong persoalan inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan kenapa perlu membuat sebuah eksperimen dengan mengkolaborasikan dua genre ini menjadi satu kesatuan bingkai. Kendati ini dilihat sebagai suatu hal yang tidak baru bagi wilayah tertentu, namun ini bisa menghadirkan sebuah harapan yang baru bagi seni rupa di Ranah Minang, Sumatra Barat. 

img-1432874301.jpg

Dengan tersajinya karya mural instalasi ini, semoga dapat menggeser paradigma praktik kesenian yang selama ini berjalan tidak seimbang. Tentu harapan baru ini tidak hanya menjurus pada lahirnya karya instalasi dan mural yang lebih beragam dan progres, namun sebagai pembuktian bahwa gagasan yang terencana mampu menghadirkan sebuah pembeda.  Pembeda yang tidak hanya membangkitkan gairah kesenian yang inovatif  namun sekaligus akan terus bertransformasi kepada bentuk dan gagasan yang tak berbatas.

Ibrahim

kurator

 

Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar