Pameran Ada Seni

Pameran Ada Seni



Catatan Pameran "Ada Seni"

Pertama pameran  Ada Seni menyasar seniman yang berfikir atau berpandangan bahwa seniman adalah bagian dari masyarakat dan sejatinya keberadaanya dapat dirasakan masyarakat. Kemudian pameran Ada Seni menawarkan kepada seniman untuk sama-sama meneriakkan kepada masyarakat luas bahwa “”Kami Ada!”  dan keberadaan itu dibuktikan dengan “karya” yang tersaji dalam sebuah pameran. Di sisi lain pameran Ada Seni hendak memperkuat kembali aksi kreatif baik sekecil apapun. Dengan kata lain ketika tak sanggup atau sulit membuat sesuatu yang besar mari mengawalinya dari yang kecil. Pada sisi kekaryaan pameran Ada Seni jelas tidak menitik beratkan pada persoalan tematik yang mengikat melainkan lebih pada menilik  eksistensi dan sikap” seniman dalam menjalani aktifitas kekaryanya.

Gagasan di atas berawal dari pola seniman kususnya di Sumbar yang mudah ditebak akibat sering bermain di zona aman. Sehingga dinamika kesenian di Sumbar tampak tenang tak beriak apalagi bergelombang  akibat bersandar hanya pada institusi formal.  Di balik itu hal yang paling melatari salah satunya adalah seniman tidak bermental “tarung”  kendati kondisi pameran terbilang minim. Juga disadari dan  sangat keterlaluan jika mengatakan Sumbar tidak memiliki pergerakan seni rupa. Sebab hal ini jauh hari telah dilakoni oleh lembaga formal seperti Taman Budaya dan kampus seni misalnya.  Namun dari potensi yang ada jelas tidak masuk akal ketika Sumbar sebagai salah satu penghasil seniaman untuk Indonesia masih terperosok dalam kebuntuan aksi.  Lain halnya ketika Sumbar sudah cukup pauas dengan “menjual” nama seniman-seniman sukses di luar sana untuk mendapat pengakuan terhadap apa yang terjadi di Sumbar.

 Analogi persoalan lain yang sering muncul adalah seniman Sumbar masih senang tidur dan bermimpi di atas buaian orang lain dari pada membuat buaian sendiri lalu tidur pulas di atasnya. Atau mereka lebih tertarik untuk bertanam bahkan “menyusup” di kebun orang dari pada menggarap tanah sendiri. Cara instan ini memang banyak digandrungi seniman di Sumbar agar mendapat sorotan dari daerah yang telah menjadi pusaran seni rupa Indonesia seperti Jakarta, bandung, dan Jogjakarta. Mentalitas macam ini jelas tidak salah namun tanpa disadari malah makin membesarkan wilayah lain dan makin mengkerdilkan wilayah sendiri dalam peta seni rupa Indonesia. Sehingga Sumbar tidak memiliki kekutan yang fundamental dalam menawarkan idenya akibat seniman lebih memilih tampil di wilayah lain.

Pameran Ada Seni jelas bukanlah sebuah agenda yang menyatakan atau pembuat jalan keluar. Namun paling tidak menjadi cikal bakal menguatnya kembali semangat untuk membenahi bengkalai yang terabaikan oleh masyarakat seni Sumatera Barat. Sehingga muncul kembali pemikiran bahwa pada level tertentu seniman tidak hanya menjadi sosok yang menunggu untuk dipamerkan namun ikut mengorbankan diri sebagai penggagas, pelaksana dan peserta pameran.

 

Curator

Ibrahim

Dona

 

Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar