Pameran Kekirian-Kekinian, “Sebuah penghinaan untuk kita”

  • Home /
  • Artikel /
  • Pameran Kekirian-Kekinian, “Sebuah penghinaan untuk kita”

Pameran Kekirian-Kekinian, “Sebuah penghinaan untuk kita”


Di hari ulang tahun yang ke -5 Kelompok TERAS terus menampakkan bahwa mereka mampu menjaga konsistensi dan berkomitmen untuk terus menjadi ruang alternatif  yang solid. Kelompok ini terbilang unik dan berani mengingat mereka bergerak di ruang-ruang yang nyaris dianggab oleh masyarakat kesenian jauh dari kata representatif. Namun disinilah yang menjadi kekuatan TERAS dan itu tentu tidak dimiilki oleh sebagian kelompok lain maupun individu terkhusus di Sumatera Barat. Hampir semua seniman yang ada di Sumatera Barat mendambakan pameran yang “gemerlapan” kendati keinginan itu malah menghasilkan perlambatan pergerakan akibat tidak berbanding lurus dengan kinerja untuk ke arah yang didambakan. Dengan kata lain impian yang baik itu terlihat melampaui realitas mengingat seniman masih ingin dibuai oleh infrastruktur yang pada kenyataannya masih terletak di “atas awan”.

img-1462178615.jpg

Pertunjukan silat saat pembukaan

Dalam kesempatan kali ini TERAS dengan percaya diri menggelar sebuah Pameran di kaki gunung merapi tepatnya di galeri Sarang Gagak Koto Baru Agam. Kendati jauh dari keramaian kota ternyata mulai dari persiapan pembukaan pameran terlihat interaksi yang kental dengan masyarakat dan tidak tanggung-tanggung juga di suport oleh lingkungan dan unit usaha sekitar. Entah “mantra” apa yang dibaca mereka berhasil mengajak orang-orang sekitar yang bisa dipastikan awalnya cukup awan baik dengan kerja dan aktifitas yang mereka lakukan termasuk style mereka yang juga “gitu deh”.

img-1462178672.jpg

Suasana pameran

Jika di lihat lebih dekat pameran yang bertemakan Kekirian-Kekinian ini memberikan pesan-pesan yang tersembunyi. Saya  menyebut pameran Kekirian-Kekinian ini secara keseluruhan merupakan sebuah karya yang “kelewatan” karena disajikan secara komplek dan menohok. Mereka menempatkan karya dalam tiga frame yang berbeda-beda dan nyaris “tidak lazim” untuk di Sumatera Barat. Dalam catatan ini kita tidak akan melihat karya yang di pamerkan namun lebih menilik seperti apa TERAS memamerkan karya dalam pameran ini. Pada frame pertama karya disajikan dengan penataan layaknya pemeran secara umum alias pengunjung bisa dengan leluasa dan fokus saat menikmati karya yang dipamerkan. Saat menuju ruangan yang kedua terdapat “kebingungan” saat menikmati karya yang ada. Disini karya seniman bersandingan dengan patung manekin berbalut kebaya bordir. Hebatnya di sini pemilik usaha mempersilahkan kelompok TERAS menyisip karya di antra produk dagangannya dan seterusnya kelompok TERAS dengan senang hati melakukanya. Sehingga tampaklah pada saat itu bahwa dunia ini begitu luas dan tidak sulit. Adapun di ruangan ketiga TERAS memamerkan karya seniman di dalam dapur tungku kayu bakar yang besar dan juga terdapat sumur tua di dalamnya. Dalam ruangan ini mereka berusaha menyembunyikan hitam legam dapur itu dengan balutan kertas semen kendati tidak bisa menghilangkan hakikat tempat itu sebagai bekas dapur tungku kayu bakar. Di ruangan ini karya memang bertengger manis di atas tungku yang ternganga hitam dan memberikan tanda bahwa ruangan ini seperti “berontak” telah diperlakukan tidak seperti layaknya sebuah dapur. Tetapi siapa yang tahu bahwa TERAS sebenarnya telah mencabik-cabik logika dan menghatam akal sehat bahwa seperti tidak ada lagi “harapan” yang bisa di gantungkan selain pundak sendiri jika ingin terus berkarya. Mereka dengan lantang mengkurangajari “pecinta kemampanan” dan merobek asa-asa kaum intelektual yang dengan angkuhnya mengatakan kamilah yang lebih ahli. Mereka juga “melunturkan kesombongan” yang selama ini meninggikan karya jika telah terpajang di ruang bercahaya di pulau seberang sedangkan lingkungan tempat mereka “berkubang” seperi tungku yang tak berkayu bakar.  Ini memang miris namun juga fakta karena “pengkhianat seni” selalu mengkerdilkan setiap apa yang diusahakan ruang-ruang alternatif dan disaat yang sama hanya memilih untuk menjadi penonton yang baik namun bersuara keras nan bikin pekak.

img-1462178714.jpg

Suasana pameran

img-1462178797.jpg

Suasana pameran

Pameran Kekirian-Kekinian memang bisa ditarik kemana saja dan jika diperhatikan ini sebenarnya sebuah penghinaan yang juga bisa diarahkan kepada siapa saja. Jika ia di arahkan kepada kaum intelektual maka salah satu kesimpulan yang bisa di ambil adalah “jangan hanya bisa membuat dan melahirkan produk yang disebut seniman jika akhirnya tidak bisa membuat sebuah jalur yang benar untuk keberlangsungan kesenian itu sendiri”. Namun jika ini di arahkan kepada pemangku kepentingnn maka TERAS telah mengeksplisitkan bahwa kedahagaan mereka terhadap ruang dan persitiwa sudah tidak bisa lagi dihalangi oleh “kekikiran” sang penguasa dalam memberi tuntunan dan “fasilitas”.

img-1462178755.jpg

Suasana pameran

img-1462178776.jpg

Suasana pameran

Ciri TERAS memang terdapat pada “kenakalanya” dan itulah yang menjadikan mereka berbeda dari kelompok lainnya. Dengan kesederhanaan yang dimiliki mereka mampu mempertahankan eksistensinya karena terbebas dari tuntutan yang aneh-aneh. Sebab mereka salah satu kelompok yang rela bermain di “pinggiran” dan keluar dari hiruk-pikuk seni rupa Minang yang nyaris memecahkan gendang telinga. Sehingga apa yang mereka lakuakan (TERAS) makin menguatkan keyakinan yang selama ini telah di bangun bahwa sebanarnya penghalang dari lambatnya pergerakan seni rupa di Ranah Minang berawal diri kita sendiri. Sebab TERAS dan ruang aternatif lainnya telah mengajaran pada mereka-mereka yang masih terus berandai-andai bahwa segala sesuatunya bisa berjalan jika pandangan mampu mengukur jangkauan telapak kaki.


doc RAS

 

Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar