PENGHULU, ANUGERAH GELAR DAN UPAYA KREATIF “URANG AWAK”

Home/ Artikel/ PENGHULU, ANUGERAH GELAR DAN UPAYA KREATIF “URANG AWAK”

Gusti Asnan

(Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas-Padang)


 

 

Bahwa penghulu dilukiskan bagaikan manusia agung dan sosok paripurna dalam tambo atau penuturan-penuturan adat tidak perlu diragukan. Tambo atau penuturan adat itu memang sengaja dibuat guna mengungkapkan segala yang baik tentang penghulu. Gambaran penghulu bagaikan manusia setengah dewa ini kemudian dipertegas lagi oleh tulisan-tulisan yang dibuat oleh sejumlah datuk dalam sejumlah karya (buku atau tulisan) mereka. Hal ini bisa dimaklumi, karena yang menulis tentang diri mereka adalah mereka sendiri.

Hampir tidak ada tambo atau penuturan adat serta karya para penghulu yang melihat bahwa penghulu atau datuk itu adalah juga manusia, manusia yang juga punya kelemahan dan lazim berbuat salah bahkan dosa. Nyaris tidak pernah ada tulisan atau pengkajian mendalam dari sisi manusianya penghulu tersebut. Misalnya tentang “Oknum Datuk Jual Togel Online”, “Seorang Datuk Tertangkap Basah Lagi Indehoy Dengan Seorang Janda yang Tengah Hamil” atau tulisan mengenai  penghulu yang “badunia” memperhelatkan anaknya berhari-hari hingga akhirnya bankrut, atau ada penghulu yang mengemis minta jabatan serta kenaikan tunjangan kepada pemerintah, dan lain sebagainya.

Tapi sudahah, tulisan ini tidak akan memperbincangkan soal lukisan figur penghulu sebagaimana dihadirkan dalam historiografi tradisional, karena memang tidak atau belum pernah ada seorang penghulu yang berperilaku betul-betul sesuai dengan gambaran ideal di atas. Apalagi banyak penghulu yang menjadi penghulu hanya karena garis keturunan, dan tidak sedikit pula penghulu yang menjadi penghulu hanya karena anugerah atau dianugerahi penghulu.

Penghulu anugerah atau ada orang yang dianugerahi penghulu bukanlah gejala baru. Gejala ini telah muncul dalam waktu yang lama, namun tahun 1950-an adalah episode terpenting dalam sejarah penghulu anugerah atau adanya orang yang dianugerahi penghulu di Minangkabau. Pada kurun waktu itu, muncul “upaya kreatif” Urang Awak dalam proses penganugerahan gelar adat ini. Saat itu, gelar adat dianugerahkan kepada sosok-sosok penting (pejabat, politisi, intelektual bahkan hingga tentara).  Sebagian dari “prominent persons” yang dianugerahi gelar tadi memang “sudah dijalannya” mendapat gelar adat, tetapi ada juga yang dicari-carikan jalannya agar bisa memperoleh gelar tersebut. Bagi “anak kemenakan” atau “kaum” yang memberi gelar, jelas nama kaumnya menjadi “terangkat”. Tidak hanya kaum, bahkan keseluruhan orang Minangkabau juga ikut “dapat nama”. Apalagi, acara penganugerahan gelar tersebut diliput dan diberitakan secara luas oleh media massa. Sebaliknya, sosok-sosok yang dianugerahi gelar juga mendapat keuntungan, karena mendapat dukungan dari “anak kemenakan” khususnya, dan “Urang Awak” secara keseluruhan pada umumnya. Gejala yang sama, bahkan dalam porsi yang berlebihan, sebetulnya tetap ditemukan pada kurun waktu empat atau tiga dekade belakangan. Di sinilah sesungguhnya makna “upaya kreatif”  Urang Awak dalam penganugerahan gelar adat.

Penganugerahan gelar adat khususnya atau gelar-gelar lain yang mengandung makna penghargaan kepada sosok yang dianugerahi gelar adalah perbuatan yang baik. Penganugerahan gelar ini adalah bagian dari apresiasi kita kepada orang lain. Apresiasi dalam pengertian adanya ketulusan dan keikhlasan atas prestasi dari sosok yang dianugerahi gelar tersebut. Namun, dalam sejarah, seperti yang dikemukakan di atas, pernah ada penganugerahan gelar yang hanya asal diberikan atau diberikan dengan harapan untuk mendapatkan sesuatu dari pemberian gelar tersebut. Bila penganugerahan itu diberikan dalam kedua pola di atas, sekali lagi, tepatlah penganugerahan tersebut dikatakan sebagai “upaya kreatif” yang mengandung arti ekonomis, sosial, politis dan budaya. Atau dengan kata lain, pemberian itu membenarkan ungkapan “no free lunch”.

Pola pemberian gelar, dalam pengertian “upaya kreatif” ini telah hadir semenjak pertama kali tradisi pemberian gelar ini tercatat dalam sejarah Minangkabau. Menurut catatan lama, penganugerahan gelar “asal beri” ini dilakukan kepada Thomas Dias oleh “raja” Minangkabau. Pegawai VOC yang ditempatkan di wilayah Siak (Riau) ini melakukan kunjungan kepada sang “raja” Minangkabau tahun 1686. Karena yang datang adalah “Orang Putih”, orang yang berbeda dari kebanyakan warga nagari di mana sang “raja” tinggal, apalagi “Orang Putih” tadi mengatakan pula dia mewakili sebuah perusahaan dagang yang besar, membawa hadiah untuk sang “raja”, memuji-muji sang “raja” hingga sampai ingin mencium kaki sang “raja” (termasuk juga menjelek-jelekan beberapa orang dekat sang “raja” serta sejumlah haji), maka sang “raja’ dengan segera memutuskan akan menganugerahinya gelar, yakni “Orang Kaya Saudagar Raja Orang di dalam Istana”.

Demikianlah sejarah pemberian gelar yang pertama oleh “raja” Minangkabau dalam sejarah negeri ini. Gelar yang dengan segera (instan) diberikan kepada orang asing, orang yang dianggap berbeda dan memiliki kelebihan dari warga nagari yang dia kenal. Orang itu dipandang berbeda dan dianggap lebih dari warganya, walaupun orang tersebut pernah menzalimi saudaranya (Thomas Dias pernah menganiaya Raja Hitam, sepupu sang “raja” di Malaka).

Pasti sang “raja” tidak tahu akal bulus Thomas Dias dan pemimpin kompeni di Malaka yang ingin mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari aktivitas niaga yang dilakukan orang/saudagar Minangkabau di bagian timur kawasan tengah Sumatera khususnya dan di kawasan Semenanjung Malaka pada umumnya.

Penganugerahan gelar adat yang dilakukan pada tahun 1950-an dan gelar adat atau beraneka gelar sangsako adat beberapa waktu belakangan, pasti telah dipertimbangkan dengan cukup matang. Sosok yang akan menerima gelar pasti telah diketahui. Individu-individu yang telah atau akan membuat celaka pasti tidak akan diberi gelar. Namun yang jelas, pemberian gelar tersebut adalah “upaya kreatif” Urang Awak yang pasti ada nilai ekonomis, sosial, politis, dan budayanya. Sebaliknya, (katakana saja) sebagian dari penerima gelar itu juga mendapatkan keuntungan. Dengan demikian, “kita” mendapat keuntungan dari penganugerahan gelar tersebut, dari “mereka” yang dianugerahi gelar juga mendapat kentungan pula.

“Upaya kreatif” ini juga bisa dilihat dari jenis gelar yang diberikan. Simaklah gelar-gelar yang diberikan misalnya oleh Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung kepada sembilan tokoh nasional tahun 2009 yang lalu, seperti “Yang Dipertuan Temenggung Raja”, “Tuanku Pujangga Diraja”, dan “Tuanku Muda Pujangga Diraja”. Gelar-gelar yang hebat dan kedengarannya juga “nyastra”. Bukankah gelar-gelar ini menarik dan kreatif? Atau simak pula gelar “Raja Kecil” yang diberikan kepada seorang pejabat di pemerintahan kota Padang, sebuah gelar yang pernah begitu popular di masa (walaupun dalam sejarah, sosok yang pernah menyandang gelar ini dan mempopulerkan gelar ini pernah bekerjasama atau menjadi kaki tangan kompeni Belanda).

“Upaya kreatif” ini juga bisa dilihat dari makna lain penganugerahannya, yakni “membawa pulang kampung kembali” sejumlah tokoh nasional Urang Awak. Hal ini juga diakui, misalnya oleh Emil Salim, atau “upaya kreatif” dalam artian mengangkat kembali budaya kita, seperti yang diungkapkan sejumlah pejabat/petinggi negeri yang dianugerahi gelar adat tersebut.

“Upaya kreatif” ini juga bisa ditemui dalam pemberian sejumlah gelar adat kepada sejumlah datuk yang nota benenya “orang berpangkat” atau “orang beruang” yang marak dilakukan beberapa dasawarsa belakangan. Dalam hal ini, “upaya kreatif” itu ada pada kaum atau anak-kemenakan penghulu yang bersangkutan, atau pada orang/ sosok yang ingin dinobatkan/dianugerahi gelar adat tersebut (karena dia punya uang dan kedudukan).

Dalam konteks inilah sesungguhnya anugerah gelar dan gelar anugerah di negeri ini bisa dan seharusnya kita pahami. Ada “heboh” dalam sejarah penganugerahan gelar ini juga tidak bisa diingkari. Namun, itulah ranah Minang, tidak ada yang tidak menjadi perdebatan atau tidak ada yang tidak dihebohkan di negeri ini. Bahkan, pameran ini, secara langsung atau tidak juga merupakan diskurs intelektual dari “heboh” yang dihadirkan oleh tradisi anugerah gelar atau gelar anugerah itu sendiri.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar