Perjalanan Seni Rupa Sumatera Barat

Perjalanan Seni Rupa Sumatera Barat


 

Sekelumit Sejarah

Menurut catatan sejarah, Sumatera Barat  sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah yang menghadirkan karya-karya seni rupa. Van Hanselt, seorang berkebangsaan Belanda pernah melakukan sebuah ekspedisi ke Sumatera Tengah (kini Sumatera Barat) dan  ekspedisi yang ia lakukan pada tahun 1881 itu kemudian melahirkan sebuah buku yang berjudul Ethnographische Atlas Van Midden Sumatera (1881). Dalam buku tersebut Hanselt  menjelaskan bahwa ia menemukan beragam bentuk seni rupa yang hadir di tengah-tengah masyarakat setempat. Sayangnya Hanselt tidak bisa mengabadikan penemuannya dalam bentuk photo. Alih-alih mengabadikan dengan photo, Hanselt menggambarkan seni rupa dimasa itu dengan tinta cina. 

img-1440500676.jpg
Siswa kweekschool di Fort de Kock (Bukittinggi)

Beruntung, lima puluh tahun kemudian, Pirngadi dan Jasper mengisi beberapa kekosongan dalam penemuan Hanselt. Mereka berdua melakukan perjalanan ke seluruh Indonesia dan mencatat berbagai peristiwa kebudayaan di setiap daerah di Nusantara. Perjalanan tersebut menghasilkan sebuah buku Irlandsche Kunstneverheid In Nederland Indie yakni tahun 1919, 1921, 1924,1927 dan 1930. Dalam buku tersebut Pirngadi dan Jasper telah mencantumkan beberapa photo mengenai Seni Rupa di Sumatera Tengah.

img-1440499719.jpg

                                                                         Oesman Effendi berkaca mata

Selain ketiga orang yang disebutkan di atas, sekitar tahun 1826 tercatat ada beberapa ahli gambar yang dikirim oleh pemerintah Belanda untuk memetakan wilayah-wilayah jajahan Belanda. Tukang gambar tersebut bukanlah pelukis yang bekerja atas nama dunia seni rupa, akan tetapi mereka hanya para draftman yang bekerja pada Belanda. Meski tujuan kedatangan mereka ke Sumatera Tengah bukan untuk kegiatan seni rupa, namun kedatangan merekalah yang sebenarnya membawa pengaruh besar terhadap perkembangan seni rupa di Sumatera Tengah. Para drafman ini yang kemudian menularkan kepandaian menggambar mereka pada pribumi. Louis Henri Wihelmus Merkus de Stuers adalah salah satu dari sekian banyak draftman utusan Belanda yang ditempatkan di Sumatera Tengah. Pada saat itu Stuers dan teman-temannya sengaja mengajari pribumi cara menggambar karena mereka masih kekurangan tenaga untuk memetakan wilayah jajahan di Indonesia.

img-1440499904.jpg
Karya Oesman Effendi berjudul Abstraksi Alam

Pada tahun 1855, pemerintah Belanda mendirikan sebuah Sekolah Pendidikan Guru (Kweekschool) di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi), satu-satunya lembaga pendidikan lanjutan yang diperuntukkan bagi orang Indonesia di Sumatera. Sekolah yang dikenal sebagai Sekolah Raja menyertakan pelajaran menggambar sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan kepada para siswanya. Di sekolah inilah kemudian (pada tahun 1903) salah satu seniman besar Indonesia yaitu Wakidi mulai mengecap pelajaran mengenai seni rupa, terutama teknik menggambar. Kweekschool adalah langkah awal pergeseran seni rupa Sumatera Barat, dari seni rupa tradisional menuju bentuk modern.

Sebelumnya, seni rupa di Minangkabau (Sumatera Barat) hanya berupa bentuk seni visual yang dijadikan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai yang berhubungan dengan aturan-aturan adat dan cenderung seragam karena merupakan bentuk-bentuk yang disepakati bersama. Namun di Kweekschool diajarkan hal yang berbeda. Masyarakat (melalui siswa-siswa di Kweekscool) digiring untuk menjadi modern, yaitu berani untuk mengekspresikan gagasan personal dan lebih mengutamakan nilai estetika.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru, Wakidi diminta untuk mengajar di sekolah tersebut karena dia dianggap sebagai salah satu murid yang berbakat. Namun ketika kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang, Wakidi dipindahkan ke Bengkulu dan menjadi tenaga pengajar di sana. Wakidi kembali ke Sumatera Barat dan menjadi salah satu guru di INS Kayu Tanam pada tahun 1944. Selama menjadi tenaga pengajar di beberapa sekolah, Wakidi telah memiliki begitu banyak murid. Beberapa diantaranya adalah; Arby Samah, Oesman Effendi, AA. Navis, Montigo Busye, Baharuddin MS, Hasan Basri Dt. Tambijo, Nashar, Zaini dan masih banyak yang lainnya.

img-1440500087.jpg

                                                                                          Karya Wakidi

Wakidi tercatat sebagai seniman yang pertama kali mencetuskan bentuk-bentuk naturalisik setelah Raden Saleh. Indonesia Molek yang terdiri dari kumpulan karya yang mengusung tentang keindahan Indonesia terutama Sumatera Tengah telah membawa Wakidi menjadi seniman ternama. Pada masa itu, aliran lukisan yang ditekuni oleh para seniman (terutama para murid Wakidi) cenderung mengikuti pola Wakidi yaitu naturalistik. Ada banyak wakidian di seluruh Indonesia Hampir seluruh seniman melakukan peniruan terhadap objek pemandangan atau hal-hal yang indah. Hanya sedikit yang keluar dari pola-pola yang dilakukan Wakidi, salah satunya Arby Samah yang konsisten dengan bentuk-bentuk abstrak. Tidak ada pembaharuan atau pergeseran dalam kegiatan melukis, mereka melakukan persis dengan apa yang telah ditularkan Wakidi. Seniman pada masa itu seakan tidak terlalu peduli dengan masalah tematik. Mereka berkutat pada dua hal saja, menjadi pelukis naturalis dan kaligrafi.  Hal ini berlanjut sampai tahun 2000an. Sementara itu di luar sana, di pulau Jawa dan Bali, para pelukisnya sudah mulai keluar dari hal-hal berbau naturalistik dan memunculkan hal-hal yang berbau kebaharuan, dan mulai memotret kehidupan sehari-hari serta mengemukakan tema-tema social.

img-1440500844.png

                                                                       Karya Zaini berjudul "Abstrak I"

Tahun-tahun berikutnya, (setelah masa-masa murid Wakidi) beberapa seniman senior (berasal dari ranah minang) yang pernah mengecap pendidikan di Yogyakarta dan Bandung kembali ke Sumatera Barat dengan “gaya” baru. Namun gaya-gaya baru yang mereka munculkan lebih kepada bentuk-bentuk mimesis atau meniru apa yang telah diperbuat oleh seniman lain. Ketika sebuah teknik berhasil menarik perhatian publik seni rupa (terutama kolektor) maka yang lain akan mengikuti/meniru teknik tersebut. Begitu juga halnya dengan seniman junior/generasi muda, mereka muncul dengan karya-karya berbeda, akan tetapi karya-karya tersebut muncul dibarengi dengan kesamaan/kemiripan dengan karya-karya rupa milik seniman di pulau Jawa.

Itu artinya, seniman Sumatera Barat (yang berkesenian di ranah minang) tidak menghadirkan sesuatu yang baru akan tetapi lebih kepada mengikuti kecendrungan yang berlaku di pulau Jawa. Saya masih ingat ketika Agus Suwage muncul dengan karya-karya tengkoraknya, dan tidak lama kemudian begitu banyak seniman di Sumatera Barat yang ikut-ikutan membuat tengkorak. Meskipun demikian, dari sekian banyak yang berada di dalam kelompok “ikut-ikutan” itu, masih ada segelintir dari mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk mencari dan menggali coraknya sendiri. Segelintir orang itulah yang sampai kini masih bertahan di Sumatera Barat. Berusaha membangun seni rupa ranah minang, tanpa merasa tergiur untuk “merantau”, mencoba peruntungan seni di tanah seberang.

Kembalinya perupa yang menuntut ilmu di negeri seberang ternyata tidak membawa perubahan yang signifikan terhadap perkembangan seni rupa di Sumbar. Para seniman masih bergerak lamban. Semuanya masih bertumpu pada kebaikan hati pihak Taman Budaya untuk menyelenggarakan pameran, berharap beberapa karya mereka bisa dipamerkan. Taman Budaya sebagai satu-satunya tumpuan seniman, malah telah memiliki seniman “langganan” yang setiap tahunnya sudah punya jadwal pameran. Seniman “langganan” ini terdiri dari seniman senior yang membatasi kesempatan para junior untuk bisa memamerkan karya mereka.

Kondisi ini kemudian memancing reaksi dari beberapa kelompok perupa muda yang ada di Sumatera Barat. Beberapa seniman muda yang menjadi motor penggerak mencetuskan untuk mendirikan komunitas-komunitas/kelompok-kelompok seni rupa. Ada banyak komunitas mulai menghiasi ranah seni rupa di Sumatera Barat di tahun 2000 sampai tahun 2011. Munculnya komunitas-komunitas seni rupa ini dulunya bak cendawan usai musim hujan. Mereka menghembuskan angin segar terhadap iklim seni rupa Sumatera Barat. Masyarakat seni rupa yang dulunya hanya mengharapkan Taman Budaya sebagai tempat untuk berpameran kemudian mulai memikirkan ruang-ruang alternatif. Mereka tak lagi diam di satu tempat, menunggu dengan penuh harap bisa berpameran di ruang-ruang mainstream yang notabene lebih mendahulukan kepentingan seniman senior. Salah satu komunitas yang berhak masuk dalam catatatan sejarah adalah Komunitas Seni Belanak (KSB).

Tidak bisa ditampik bahwa kehadiran KSB sekitar tahun 2003 telah membawa aroma perubahan pada ranah seni di Padang. Beberapa sosok termasuk Ibrahim, Muhammad Ridwan, Firdaus, Syahrial, Erlangga dan yang lainnya di masa itu adalah orang-orang yang benar-benar menginginkan perubahan untuk seni rupa Sumatera Barat. Berbagai usaha dilakukan oleh komunitas tersebut demi keluar dari “genggaman” keterbatasan akan apparatus seni (galeri, kurator, kritikus seni, media, dan kolektor). Mereka terhitung cukup berhasil membuat Sumatera Barat kemudian banyak dilirik oleh pelaku seni di luar sana. Berbagai kegiatan mereka gagas bahkan mereka juga berhasil melakukan berbagai kerja sama dengan aparatus seni di luar Sumatera Barat. Bahkan, ketika orang-orang di luar pulau Sumatera berbicara tentang seni rupa Sumatera Barat, mereka secara serentak akan langsung tertuju pada satu komunitas itu yaitu Komunitas Seni Belanak. Nama komunitas ini cukup harum di masanya, dan membuat beberapa kritikus, kolektor dan kurator tergelitik untuk tau lebih banyak tentang pergerakan yang dilakukan KSB dan tidak segan-segan untuk bertandang ke kota Padang. Namun sayang, perjuangan yang begitu panjang dan melelahkan itu kini seakan berhenti begitu saja. Komunitas ini meredup dan seperti kehilangan roh. Semoga saja ini hanya sebuah mati suri, yang suatu hari nanti aka nada spirit baru dan bisa membangkitkan kembali kejayaan di masa silam.

img-1440501747.jpg
Galeri RAS

Meredupnya eksistensi Komunitas Seni Belanak, diikuti dengan “menghilangnya” kelompok-kelompok seni rupa yang lainnya. Iklim berkesenian di Sumatera Barat yang semakin tidak menentu kemudian ikut membunuh semangat yang pernah dibangun. Namun, patah tumbuh hilang berganti, kini muncul lagi kelompok-kelompok seni rupa baru yang dibentuk oleh perupa-perupa muda di ranah minang, baik itu di kota Padang maupun Padang Panjang. Ada dua kelompok baru yang terbentuk dua tahun belakangan, yaitu Rumah ada Seni (di Padang) dan Kelompok Teras(di Padang panjang). Kedua kelompok ini muncul dengan semangat yang cukup kuat. Terbukti, mereka sanggup melakukan berbagai pameran (meskipun tidak besar) di ruang-ruang unconvensional. Jika ditilik dari pergerakan keduanya, Rumah Ada Seni terlihat begitu menonjol. Kelompok ini hadir dengan spirit baru. Meski terhitung masih seumur jagung, RAS telah melakukan gebrakan-gebrakan yang belum pernah dilakukan oleh kelompok lain sebelumnya. Dalam waktu satu tahun, kelompok ini telah menyelenggarakan banyak kegiatan seperti pameran dan workshop. Sesuai dengan namanya, Rumah Ada Seni hadir sebagai “rumah” atau wadah yang terbuka untuk perupa-perupa Sumbar yang masih punya semangat untuk berkesenian, terutama para perupa yang selama ini “diabaikan” oleh ruang-ruang mainstream. RAS merangkul dan memfasilitasi berbagai bentuk kegiatan seni rupa tanpa membedakan tua maupun muda, senior maupun junior, perupa minang ataupun bukan.  RAS juga dianggap sebagai pembuka jalan sekaligus membuka mata masyarakat seni rupa bahwa berkesenian itu tidak melulu harus di galeri-galeri besar. Perlahan namun pasti, RAS membawa perubahan terhadap iklim seni rupa Sumatera Barat.

 

Lesunya Pasar Seni Rupa dan Mengenang Masa-masa Booming

 

            Melemahnya kekuatan ekonomi di Eropa telah memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap geliat seni rupa dunia temasuk Indonesia. Pasar seni rupa Indonesia menjadi lesu dan berimbas pada seluruh wilayah yang tersebar di Nusantara. Sumatera Barat adalah wilayah yang kondisi seni rupanya saat ini begitu memprihatinkan. Melemahnya pasar sangat berpengaruh kepada praktik-praktik seni rupa di ranah minang. Ketika dulu masih ada satu atau dua kolektor yang rajin menjambangi Padang, untuk mencari karya-karya terbaik, kini tak satupun diantara mereka yang muncul dan hilang entah kemana.

img-1440501039.jpg

            Seniman yang tadinya mengandalkan seni rupa sebagai pemutar roda ekonomi kini semakin kelabakan karena tidak adanya geliat pasar. Idealisme yang katanya “tinggi” yang memantangkan diri untuk bekerja di luar ranah rupa ternyata membuat kehidupan seniman jauh dari kemapanan. Meskipun ada satu atau dua kali pameran bersama yang diselenggarakan, itu sama sekali tidak memperbaiki apapun. Perhelatan seni rupa saat ini hanya berupa seremonial atau penanda bahwa Sumatera Barat juga memiliki seni rupa. Di luar dari semua itu, perupa tidak bisa menggantungkan harapan pada seni rupa itu sendiri. 


            Menoleh ke beberapa tahun silam, sekitar tahun 2007 s/d 2008, seni rupa Indonesia tiba-tiba dilanda oleh peristiwa “jual-beli”. Puluhan kolektor seni rupa baik itu dari dalam maupun luar negeri berlomba-lomba untuk membeli karya seniman Indonesia. Karya rupa berubah bak emas berlian. Pelaku seni rupa berubah menjadi selebritas, yang keberadaannya selalu diburu.  Sumatera Barat juga tidak luput dari masa-masa itu. Beberapa seniman dalam candaannya mengatakan bahwa itu adalah masa-masa gemilang bagi mereka. Para kolektor seakan kalap dan membeli semua lukisan-lukisan yang dihasilkan seniman.


            Pada satu sisi ini adalah peristiwa keberuntungan bagi seluruh seniman di Indonesia termasuk Sumatera Barat, dimana ada apresiasi dan nilai untuk karya-karya yang mereka hasilkan. Dalam rentang dua tahun tersebut, seniman Sumatera Barat belajar tentang pentingnya mengkoleksi karya, bagaimana cara bernegosiasi serta menjadi selektif dalam memilih pameran yang ditawarkan pada mereka. Selain itu, peristiwa booming juga memperkenalkan kata-kata baru bagi pelaku rupa di ranah minang yaitu “kontrak”. Ada banyak pihak yang tiba-tiba menawarkan kontrak atau semacam kerja sama dengan para perupa. Kemudian secara ekonomi otomatis membawa perubahan yang cukup besar. Booming menawarkan kehidupan yang mapan bagi para seniman. Bahkan, seniman yang awalnya masih dianggap belum memiliki kemampuan yang memadai di bidang melukis-pun ikut merasakan “manis-nya” masa-masa booming. Mereka ikut aktif dalam “menawarkan” diri walau hanya sekedar untuk mengatasi persoalan ekonomi yang selama ini membelit seluruh seniman.

Namun di sisi lain, booming sesaat itu telah membuat perupa lupa diri dan kehilangan akal sehat untuk terus berkarya dengan “cara” yang baik. Cara pandang tiba-tiba berubah dan mereka mengabaikan kualitas karena keyakinan bahwa karya-karya mereka “pasti” akan terjual. Mereka cenderung mengikuti selera pasar dan mengabaikan nilai-nilai ataupun bentuk-bentuk yang awalnya menjadi cirri khas mereka.

Jika melirik ke pulau Jawa, beberapa kelompok seniman memanfaatkan peristiwa booming untuk mendirikan galleri alternatif yang nanti kedepannya diharapkan bisa menyaingi galleri-galleri besar. Namun hal itu malah luput dari  perhatian perupa Sumatera Barat. Mereka begitu terlena dan berprasangka bahwa masa-masa “manis” itu akan bertahan sampai puluhan tahun ke depan.

Ketika efek booming berakhir dan meninggalkan ranah minang, tiba-tiba seni rupa terasa sepi, seperti kota besar yang ditinggalkan penghuninya pulang kampung di saat lebaran. Seniman yang tadinya terbuai oleh suasana booming kemudian terjaga dan mulai kembali pada realitas yang ada bahwa mereka lupa memanfaatkan suasana booming untuk membangun seni rupa Sumatera Barat. Peristiwa “jual beli” yang awalnya dianggap sebagai awal dari kebangkitan seni rupa ternyata hanya mimpi sesaat yang membuat masyarakat seni rupa terlena dan lupa diri. Kini, mereka hanya mengingat-ingat kenangan “manis” itu, dan berharap peristiwa itu kembali. Hal ini berdampak buruk pada semangat para perupa. Mereka menghadapi kesulitan untuk bangkit dan menata kembali seni rupa bumi Andalas.

 

 

Novita Yulia

(Penulis dan Sejarahwan Sumbar)

Komentar
  • Novita Yulia Alberto
    Rabu, 07 Oktober 2015

    Penulis minta maaf karena telah terjadi beberapa kali kesalahan dalam menuliskan nama Van Hasselt. Van Hanselt adalah spelling yang salah, yang benarnya adalah Van Hasselt.

Tambahkan Komentar