Ruang Dan Karya Alternatif

Ruang Dan Karya Alternatif

Periode 1970an adalah “periode pluraliusme” dalam sejarah seni rupa Barat yang ditandai dengan meluasnya  aktifitas eksperimentasi seni. Kondisi itu menjadikan ruang alternatif Artspace memiliki posisi sangat penting dalam memungkinkan terjadinya pluralisme tersebut. Artspace pertama kali dimulai di kota New York di tahun 1969-70 dengan didirikanya 98 Greene Street, Apple yang semuanya dikelola oleh dan untuk seniman dalam bentuk administrasi nirlaba. Sebagai ruang alternatif, artspace bertujuan mengakomodasi para seniman dan karya-karya eksperimental yang tidak diterima oleh fihak museum dan galeri komersial yang masih sangat kuat mempertahankan keyakinan mereka bahawa seni adalah “ patung dan lukisan belaka”.

Perlawanan terhadap hegemoni patung dan lukisan yang direpersentasikan oleh galeri dan museum ini menjadi salah satu ideologi eksistensi ruang alternatif artspace. Seiring waktu berjalan dibuktikan dengan hadirnya ruang alternatif telah memperkenalkan dan mempopulerkan apa yang sekarang kita kenal dengan seni instalasi, performance, video art dan seni konseptual lainya.

Di Indonesia permasalahan pluralisme dalam kontek seni rupa juga hampir miliki kemiripan dengan yang terjadi di Barat dan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan pula. Hegemoni lukisan dan patung juga memdapat perlawanan yang berarti dari generasi ke generasi. Namun yang perlu digaris bawahi dalam hal ini adalah permaslahan pluralisme di tanah air tidak hanya merambah ketataran penciptaan ruang alternatif dan karya alternatif, tapi juga menyinggung wilayah estetika. Sebut saja Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI). Disini mereka mencoba melakukan pergeseran-pergeseran tentang konsep seni rupa dominan Indonesia yang katanya pada saat itu nyaris merepresentasikan kondisi geografis dan politis dalam bingkai seni lukis, grafis, patung dan setrusnya.

Di sekitar tahun 1980-an hingga sekarang ruang dan karya-karya alternatif di Indonesia mulai banyak bermunculan. Walaupun dengan semangat dan konsep yang beragam telah menjadikan karya-karya alternatif cukup mendapat tempat minimal di lingkungan masyarakat seni itu sendiri.  Namun pertanyaannya yang muncul belakangan adalah apakah karya alternatif itu bisa diterima karena ramainya ruang alternatif di Indonesia melegitimasi karya-karya alternatif, atau disebabkan mereka yang telah duluan menghadirkan artspace (Barat) tersebut mengatakan bahawa karya alternatif memang karya seni, ya terserah?

Kendati demikian, karya alternatif bagi sebagian seniman merupakan media yang sangat menyenagkan dan katanya mudah menampung serta merepresentasikan setiap gagasan. Sebab ada berapa prediksi yang membuat seniman sangat menyukai untuk menghadirkan karya alternatif. Pertama karya alternatif merupakan karya yang mampu menembus wilayah publik, seperti seni instalasi, happening dan performan art. Sehingga tak ada jarak antara karya dan masyarakat luas. Kedua karya alternatif tidak hanya terkosentrasi hanya pada media cat, kanvas, tanah liat, dan dengan teknik menguas, mengukir/memahat atau menotol. Tapi  bisa menggunakan teknik dan media apa saja termasuk tubuh senimanya sendiri, misalnya  performanc art disebut sebagai representasi realitas; yang terdapat pada simbolisme. Atau simulasi yaitu ia merupakan realitas itu sendiri-happening art. Kemudian  menggunakan teknik hansambling dengan kebebasan menyusun, menupuk seperti kayu, batu, kaca, closed, seng bekas dan apa saja kemudian menghadirkan komposisi bentuk dua dan tiga dimensional, atau biasa disebut seni instalasi.

Di Sumatera Barat misalnya karya-karya alternatif lebih “menjamur” dari pada ruang alternatif. Karya-karya alternatif bermunculan berkisar tahun 1990an yang di lakukan oleh sekelompok masyarakat seni dan mahasiswa seni rupa di Sumbar. Walaupun pada saat itu apa yang mereka hadirkan jauh dari kata diterima dengan baik oleh masyarakat serta lingkungan akademik, namun kenyataanya karya tersebut terus hadir hingga sekarang dan menembus “keangkuhan” galeri-galeri yang “anti” dengan cikal bakal karya tersebut.

Dengan langkanya  ruang alternatif/artspace masalah yang dimunculkan adalah konsistensi para seniman untuk menjadikan pluralisme dalam tubuh seni rupa Sumbar. Di tambah lagi ruang dan karya alternatif yang pernah ada di Sumatera Barat Padang khususnya, terkadang hanya untuk “gaya-gayaan” atau pelepas tanya. Tidak hanya itu karya-karya alternatif yang pernah dipamerkan rata-rata karya yang lebih banyak melakukan penekanan bagaimana gagasan bisa menjadi karya kemudian pamer-pamer, tapi tidak meluas pada afirmasi untuk mengkomodifikasikan gagasan tesebut kedalam bentuk yang transformatif. Sebab, kecendrungan karya alternatif seusai pamer-pamer, seperti seni instalasi, dan seni konseptual lainya, pada umumnya material karya tersebut  “berakhir” di tempat sampah, dan seiring dengan itu gagasan  yang ditawarkan tentu menguap entah kemana. Kendati demikian semangat yang dimiliki oleh para pelaku seni yang ada di Sumbar  cukup memberikan pergerakan akan terbentuknya ruang-ruang alternatif. Dan hebatnya lagi mereka tidak lagi menjadi orang yang hanya selalu meratapi keadaan melainkan sosok yang ingin merespon keadaan tersebut dengan kreatifitas mereka.

Ibrahim

 

Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar