Seniman Sumatera: Semua Ada Syaratnya!

  • Home /
  • Artikel /
  • Seniman Sumatera: Semua Ada Syaratnya!

Seniman Sumatera: Semua Ada Syaratnya!


Terjadinya kesenjangan dalam iklim seni rupa di Indonesia bukanlah bentuk ketidak adilan bangsa ini pada masyarakatnya. Lain daerah lain hal yang mereka alami dan lain pula persolan  yang akan dihadapi. Satu daerah bisa saja memilki kekuatan finansial tapi tampak kesulitan menggulirkan setiap aktifitas dan kegiatan seni rupa misalnya. Sebut saja daerah Riau yang memiliki SDA sangat banyak namun mengalami beberapa kendala dalam menggulirkan program keseniannya. Padahal dinas pendidikan dan kebudayaan Riau di tahun 2016 mendapatkan anggaran 2,4 triliun yang 66.5 miliar untuk aktifitas kebudayaan. Tapi dengan kekuatan anggaran itu jangankan untuk program kesenian dalam kurun waktu 20 tahun taman budaya Riau nyaris tidak terurus dan pada tahun 2016 program perbaikan baru dicanangkan oleh pemerintah setempat. Masalahnya jelas tidak hanya terletak pada aparatur negara dalam merancang program untuk seniman, namun serapan juga akan berdampak pada “objek garapan” yaitu seniman dan aktifitas kesenian itu sendiri. Oleh karena itu publik di Sumatera umumnya tentu memaklumi realitas demikian karena Riau bukanlah basis yang mampu mengadirkan seniman secara sistemik dan formal. Sejauh ini seniman yang ada di sana kemudian menggerakkan kesenian merupakan pindahan dari wilayah Sumbar atau warga lokal yang telah menempuh pendidikan seni di Sumatera Barat yang rata-rata berprofesi sebagai guru. Dualitas aktifitas ini tentu menjadikan praktek kesenian di sana menjadi situasional dan tidak berakar pada pembangunan iklim karena masih bersifat partisipatif terhadap program-program tertentu.

Jika di lihat tetangga sebelahnya yaitu Sumbar memiliki perbedaan yang signifikan dari segi anggaran untuk pendidikan dan kebudayaan dibandingkan dengan Riau. Tahun 2016 Sumatera Barat melalui  DPRD menganggarkan dana pendidikan dan kebudayaan sebesar 79 miliar yang pada kesempatan ini tidak didapatkan berapa alokasi untuk kebudayaan. Namun beranjak  dari realitas di lapangan sepanjang tahun 2016 dinas pendidikan dan kebudayaan Sumbar melalui UPTD taman Budaya hanya mampu menghadirkan 1 pameran seni rupa (terlepas dari pameran publik yang menggunakan fasilitas taman budaya atau yang independen). Persoalan yang terbalik dari Riau ternyata tidak serta merta menjadikan Sumbar mampu “menjual” kelimpahan senimannya saat pengajuan anggaran demi membuktikan bahwa mereka benar-benar berfikir seniman dan pelaku seni di Sumbar juga lahir dari bentukan pemerintah melalui perguruan tingginya. Dan yang anehnya Riau dengan “kelangkaan senimannya” kendati kelihatan konyol berani menganggarkan dan mendapat anggaran yang sedemikian besar.

Jika sedikit menilik Jogjakarta sebagai salah satu “kiblat” kesenian di Indonesia dari sisi finansial tahun  2016 kalau tidak salah mereka memiliki anggaran keistimewaan tidak lebih dari 9 miliar yang semuanya untuk kesenian, pembelian cagar budaya dan pemeliharaan. Dengan anggaran tersebut pameran seni rupa di Jogjakarta seperti tiada henti-hentinya. Tapi harus diingat akan sangat menggelikan juga jika menyebut dan menganggab peristiwa kesenian di Jogjakarta di “manja” oleh anggaran pemerintah di sana.

Berangkat dari kekuatan finansial yang dioptimalisasikan melalui program pemerintah dapat dibaca secara kasat mata ternyata anggaran “tidak menjamin” dalam mendongkrak dan mengembangkan pergerakan seni rupa secara umum. Riau yang memiliki anggaran yang besar bisa dikatakan jauh dari apa yang di sebut sebagai “surga bagi seniman”. Sebaliknya Sumbar yang memiliki anggaran tidak sebesar provinsi Riau nyaris bernasip sama kendati lebih memiliki dinamika kesenian yang atraktif dibandingkan Riau karena banyak dihuni oleh pelaku seni. Yang cukup mengejutkan tentu Jogjakarta. Dengan anggaran yang jauh lebih rendah dari Riau khususnya, Jogjakarta mampu menjadi wilayah yang didambakan oleh pelaku dan pecinta seni di Indonesia bahkan mancanegara.

Catatan ini tentu tidak bermaksud untuk mengeneralisir kemudian mengambil sebuah kesimpulan terkait lambat dan cepatnya pertumbuhan kesenian di masing-masing wilayah tersebut. Sebab setiap wilayah memiliki persoalan yang berbeda-beda serta dinamika yang berbeda pula. Namun yang perlu digaris bawahi bahwa wilayah Riau dan Sumbar memilki kelebihan yang tidak dimiilki oleh wilayah-wilayah lain di Sumatera namun dengan kelebihan itu tetap tampak tidak bertaji dan di sinilah persoalannya. Riau dengan kelebihan finansialnya sebelumnya telah disinggung ternyata tidak mampu menggulirkan kegiatan apalagi melahirkan calon seniman yang berangkat dari sistem pendidikan formal-lokal yang akhirnya akan menjadi “lahan garapan” pemerintah setempat. Sedangkan Sumbar dengan kelebihannya dalam hal produktifitas dan bahkan tampak mubazir dari pada Riau dalam melahirkan calon seniman disetiap tahunya malah tidak ada ubahnya dengan Riau yaitu tidak mampu untuk mengobtimalkan kelebihannya itu. Jika memang demikian apa kira-kira yang terjadi dan kenapa Sumatera umumnya sulit untuk keluar dari “papan bawah” seni rupa Indonesia?

Persoalan Riau dan Sumbar tentu tidak hanya sebatas kelebihan yang tidak teroptimalkan tadi. Dua wilayah ini tentu menarik untuk dijadikan contoh karena ada hal yang mungkin dapat di konversikan pada wilayah lain di Sumatera terkait persoalan-persoalan yang terjadi pada keduanya. Jika disederhanakan Riau dan Sumbar memiliki keterkaitan emosional karena bersumber dari akar budaya yang sama yaitu melayu. Namun kedekatan ini tidak mampu menjadikan keduanya saling mengisi untuk mengangkat citra kesenian wilayah mereka. Riau dengan ego kelokalannya masih sangat terturup dengan warga yang secara administratif  bukan warga mereka. Sehingga Riau jika di kategorikan adalah wilayah kaya namun tidak mampu berperan aktif terhadap perkembangan kesenian di wilayahnya apalagi di Sumatera. Begitu juga Sumbar yang memiliki seniman dan lembaga pendidikan seni nyaris tidak memiliki kemampuan untuk melebarkan kinerjanya sehingga kekosongan antara dua wilayah ini (Riau-Sumbar) terus tumbuh subur dan menjadi pilar “keangkuhan” yang pastinya cukup menggelikan. Ini perlu disampaikan mengingat begitu banyak peluang yang bisa dilakukan untuk membangun dan menempatkan kesenian sebagai sarana pencitraan wilayah yang di satu sisi menguntungkan seniman dan di sisi lain akan mengangkat sektor lainnya seperti ekonomi dan pariwisata.

Berjalan Dari Bawah

Berangkat dari fakta di lapangan ternyata faktor yang menentukan lambat dan naik turunnya kesenian di Sumatera tidak bisa di sandarkan sepenuhnya pada pemerintah karena mereka telah membuktikan itu dari tahun ketahun. Benih dari kemajuan seni rupa tampaknya sangat ditentukan dari akslerasi kolektif yang ditunjukan oleh seniman.  Harus diakui dan disadari bahwa sejauh ini “keributan” yang mereka buat (seniman) di Sumatera tidak mampu memekakkan telinga karena mereka berteriak hanya sendiri-sendiri dan itupun sesekali saja. Kolektifitas yang mereka bangun juga tampak sebagai ajang kepentingan indifidual yang akhirnya akan berujung pada perpecahan. Kemudian kelompok dan komunitas yang mereka bangaun nyaris tidak mampu bertransformasi kedalam bentuk yang lebih “mapan” dan dewasa karena gampang keok oleh rasa pambrih yang tidak terbayar. Hampir semua yang mereka lakukan cendrung berlatar pada sebuah imaginasi santap-menyantap hidangan di meja makan dan setelah selesai langsung memberi efek kenyang. Yang cukup meresahkan lagi sebagian besar seniman di Sumatera tampak manja dan ingin diberi ruang yang memadai bahkan ada yang sampai masuk ke persoalan kanvas dan cat. Padahal sebelum santapan tadi berada di meja makan mereka lupa bahwa ada hal yang harus dilakukan sebelum hidangan itu hadir. Inilah yang sepertinya luput dari perhatian  pelaku seni bahwa proses merupakan poin yang sangat penting.  Proses ini tentu bersumber dari komitmen seniman itu sendiri agar bisa menjadi pantas untuk di fasilitasi atau dijadikan subjek garapan bagi mereka yang tentunya memilki kepentingan di sana.

Ada rasanya realitas yang perlu dicermati dan dijadikan pelajaran bagi mereka yang ingin tetap bergerak dan hidup dalam dunia seni rupa terutama untuk membangun wilayah mereka. Singapura dengan Gajah Galeri merupakan salah satu ruang yang pasti didambakan oleh seniman dan akan mempengaruhi kualitas apresiasi publik terhadap seniman itu jika pernah berpameran di galeri tersebut. Ketika mereka (Gajah Galery) ingin melebarkan sayapnya  ke Indonesia dan membangun galeri pertanyaannya adalah kenapa mereka baru melakukan itu bebarapa tahun belakangan. Kenapa mereka tidak melakukannya di saat masa-masa sulit seperti apa yang terjadi di Sumatera sekarang ini? Alasan pastinya tentu mereka yang lebih tahu tapi jika dicoba untuk menganalisanya bisa disimpulkan bahwa Jogjakarta salah satu yang mereka pilih untuk galeri mereka telah memilki iklim yang lebih baik dari wilayah lain dan disana terdapat banyak seniman berbagai “kelas dan kasta”. Lugasnya adalah Gajah Galeri akan memilih wilayah yang sudah memiliki kepastian baik kesiapan seniman untuk saling membangun komitmen kerja serta kelengkapan infrastruktur pendukung lainnya. Di sini telah dicontohkan dengan baik bahwa galeri-galeri mapan tidak akan hadir begitu saja ke suatu wilayah ketika di sana belum ada kepastian terutama dari diri seniman itu. Dan harus dicatat bahwa Gajah Galeri tentu bukanlah ruang yang ikut secara langsung membangun dan menata iklim kesenian di Jogjakarta sehingga pada titik sekarang ini.  Dengan kata lain mereka atau galeri-galeri mapan lainnya adalah ruang yang secara logis hanya akan bermain dalam sirkulasi yang sebelumnya telah terbentuk dari kerja keras seniman. Dan pola macam ini dalam waktu dekat sepertinya belum akan mengalami perubahan dan  seniman juga harus menyadari itu lebih cepat.

Ada sedikit kata-kata tidak sopan yang tampaknya harus di sampaikan yaitu: “ketika seniman memang ingin menapak kesuksesan dan “kaya” dari aktifitas berkayanya jangan membebankan keinginan itu pada orang lain sebelum membuktikan diri. Sebab orang lain tentu tidak bertangung jawab pada apa yang akan seniman itu raih selain dari dirinya sendiri dan ketika seniman itu telah merubah keadaannya maka yang lain akan datang menghampiri, dan saat seniman itu telah mencapai titik tertinggi maka ia juga yang akan menikmatinya”

Ibrahim


Gambar

Potongan karya Alza Adrizon 2008

Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar