Ya....Begitulah Seni Rupa Sumatera?

Home/ Artikel/ Ya....Begitulah Seni Rupa Sumatera?


Ada yang harus disikapi dari catatan  Katherine Bruhn  berkaitan dengan perhelatan Biennale Sumatera III di Taman Budaya Jambi. Objektifitas jelas menjadi pembuka awal dari catatan ini untuk melihat lebih jelas beberapa hal yang diurai oleh Katherine Bruhn . Ini perlu dipertegas mengingat bahwa Katherine Bruhn  tidak memiliki tendensi untuk mencari ruang kritik subjektif karena ia bukanlah sosok yang dirugikan jika tidak terlibat dalam perhelatan Biennale Sumatera.

Di awal catatanya Katherine Bruhn  sudah menyoal optimalisasi dari perhelatan Biennale Sumatera sebagai upaya untuk menghadirkan “pameran yang penuh kejutan”. Pandangan ini tentu berangkat dari hasrat publik yang butuh sebuah peta terhadap perkembangan seni rupa di Sumatera. Dengan kata lain ketika melihat satu perhelatan yang dibungkus dengan Biennale maka jelas sudah perkembangangan seni rupa suatau wilayah. “Kekecewaan” Katherine Bruhn tentu beralasan mengingat ia telah melakukan studi empirik terhadap aktifitas seniman di wilayah Sumatera khususnya di Sumatera Barat. Mungkin Katherine Bruhn  melihat beberapa aktifitas dan karya-karya yang cukup “liar” dan “genit” namun tidak terakomodir dalam Biennale Sumatera yang ia saksikan sendiri.

Berangkat dari sejarah pameran Biennale di Indonsia ada hal yang telah ditunjukkan oleh perhelatan Biennale Sumatera Jambi tempo hari. Telah diketahui Biennale di Indonesia dimaksudkan sebagai acuan untuk melihat pekembangan seni rupa. Setali dengan itu pameran Bienalle Sumatera juga telah memberikan gambaran tentamg itu. Jika Katherine Bruhn  mengatakan dalam catatannya bahwa yang tampil adalah sebaliknya maka sederhananya begitulah kondisi perkembangan seni rupa di Sumatera secara umum.  Dengan kata lain cita-cita Biennale Indonesia telah dipertontonkan dengan baik dalam perhelatan Biennale Sumatera Jambi tersebut tanpa cacat.  Pertanyaanya kemudian adalah apakah kondisi yang terpampang dalam pameran Biennale Sumatera III ini telah merepresentatikan seni rupa di wilayah-wilayah Sumatera? Tentu catatan ini dengan bergegas menjawab tidak! Apapun itu wilayah di Sumatera memiliki dinamika yang berbeda dan intensitas berkesenian yang juga berbeda-beda. Dan bisa dipastikan pameran sekelas Biennale itu belum bisa mewakili kecendrungan dan hasrat seniman yang ada di setiap dareah. Masalahnya tentu bukan pada Biennalenya namun visi dari orang yang mengorganisirnya dan pastinya seniman yang mengikutinya.

Katherine Bruhn  juga dengan “polosnya” membeberkan bagaimana peristiwa “pengkebirian” pameran Biennale Sumatera III Jambi dengan seremonial yang menurtnya terlalu elegan untuk sebuah Biennale dan nyaris menghilangkan apa yang ingin ditonjolkan dalam sebuah pemeran Biennale. Berlanjut pada itu tentu seremonial tidak menjadi substasif dalam melihat kemudian mentelaah pameran biennale tersebut. Tetapi harus diakui bahwa apa yang terjadi pada Biennale Sumatera Jambi dan potensi karya yang terpampang dalam pameran Biennale di Sumatera jauh dari pembicaraan lalu menimbulkan “kegaduhan” dalam seni rupa minimal di Sumatera. Semua berjalan tenang dan berakhir dengan “damai” tanpa “cela”. Apakah ini  sebuah kebetulan yang pasti “ya begitulah seni rupa Sumatera” dan kemungkinan besar juga akan ditemukan cerita yang sama ketika Biennale jatuh ke tangan lain di Sumatera.  Lalau pertanyaan selanjutnya adalah apakah hanya dengan kata “ya begitulah seni rupa Sumatera” kemudian seniman tetep duduk manja menunggu perhelatan selanjutnya? Ini tentu tidak bisa segera dijawab seperti pertanyaan sebelumnya. Sebab seniman di Sumatera meyakini bahwa mereka lebih mengetahui apa yang mereka butuhkan dan pameran apa yang akan mereka ikuti. Sebelum itu bisa dipastikan mereka telah menyaksikan dan mengikuti banyak pameran dibandingkan dengan mereka yang menjadi tamu kehormatan dalam pamerenan Biennale Sumatera di Jambi kemarin. Dari perhelatan ini tampaknya seniman harus lebih mempertegas visi berkesenian mereka karena mereka akan berada dalam kendaraan yang disebut Biennale itu. Jika memanag benar pameran Biennale jauh dari ekspektasi Biennale yang sesungguhnya dan ternyata seniman Sumatera senang-senang saja dan duduk manis dalam gerbong Biennale Sumatera maka ungkapan “ya begitulah senirupa sumaera” memang benar adanya.

Ibrahim

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar